Sunday, August 23, 2020

MENGENAL DAULLAH ABBASIYAH BAGIAN II

 KEMAJUAN  PERADABAN  DAN  KEBUDAYAAN  ISLAM  MASA  DAULAH ABBASIYAH

d.   Ekonomi (Perdagangan, Perindustrian dan Pertanian)


Peningkatan taraf hidup masyarakat dalam bidang ekonomi masa Daulah Abbasiyah sebenarnya telah dimulai saat Khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur berkuasa. Ia merupakan tokoh utama dari peletak dasar ekonomi Daulah Abbasiyah, sikap tegas, adil dan bijaksana membawa  Daulah  Abbasiyah  maju  dalam  berbagai bidang Kemajuan sektor ekonomi Daulah Abbasiyah pada masa ini disebabkan oleh usaha-usaha para khalifah yang mendorong kemajuan dalam sektor perdagangan.

  Sektor Perdagangan

Perekonomian masyarakat pada masa Daulah Abbasiyah meningkat saat khalifah Al- Mahdi (775-785 M) memerintah. Hubungan luar negeri Daulah

Abbasiyah dengan kerajaan-kerajaan lain telah membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat dan menambah kas negara.

Kota Basrah menjadi pelabuhan penting, sebagai tempat transit antara Timur dan Barat,

banyak   mendatangkan   kekayaan   bagi   Abbasiyah.   Selain   itu,  ada  juga pelabuhan Damaskus dan dermaga Kuffah. Seiring itu, terjadi peningkatan pada sektor tambang, pertanian dan industri.

  Sektor Perindustrian

Khalifah Daulah Abbasiyah memiliki perhatian yang sangat serius dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Untuk itu, mereka aktif mendorong kemajuan  sektor perindustrian.  Para  khalifah menganjurkan masyarakatnya untuk berlomba-lomba dalam industri dan pengolahan.

Banyak kota dibangun untuk pusat perindustrian. kota Basrah menjadi pusat industri gelas dan sabun, kota Kuffah merupakan pusat industri tekstil, industri pakaian dari sutra   bersulam ditempatkan di kota Damaskus yang

pusat kerajinan sutranya berada di Khazakstan, dan kota Syam menjadi pusat industri keramik dan gelas berukir.

Pembangunan kanal, bendungan,  irigasi dan terusan diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan petani yang hasilnya mampu meningkatkan produktifitas para    petani dan kualitas hasil panennya. Sebagai contoh, pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid, istri khalifah, Ratu Zubaidah menyaksikan penderitaan rakyat akibat kemarau panjang dalam kunjungannya ke Makkah dan Madinah. Atas usulan permaisuri, khalifah membangun sebuah bendungan dan terusan yangdapat  mengalirkan  air  ke  ladang-ladang  dan  untuk  kebutuhan  hidup  para petani. Sehingga kehidupan masyarakat di dua kota suci itu sejahtera. Untuk mengenang jasa Ratu Zubaidah, bendungan itu diberi nama “Bendungan Zubaidah”.

 e.    Seni Budaya

Peradaban Islam dalalm bidang seni budaya, sastra mancapai puncak kejayaannya pada masa Daulah Abbasiyah. Kota Baghdad menjadi kota pusat studi ilmu, seni dan sastra. Kemajuan ini disebabkan karena proses asimilasi (pertemuan budaya) antara bangsa Arab dengan bangsa lainnya. Apalagi setelah kegiatan penerjemahan berbagai macam buku dari Yunani, India, Byzantium, dan Persia ke dalam bahasa Arab.

Perkembangan peradaban yang dapat diidentifikasi dalam bidang seni budaya dan sastra seperti :

 Seni Arsitektur

Seni arsitektur ini sangat digemari oleh para khalifah. Seni arsitektur ini sangat   berguna   untuk   keperluan   membangun   gedung,   masjid,   istana, madrasah, dan kantor pemerintahan. khalifah Abbsiyah tidak segan-segan mendatangkan arsitek-arsitek dari Byzantium, Yunani, Persia, dan India untuk mendisain bangunan dan mengajarkan seni arsitektur bangunan kepada orang Abbasiyah

Bukti  dari  kemajuan  pradaban  seni  arsitektur  pada  masa  Daulah Abbasiyah masih dapat ditemukan sampai saat ini dari keindahan gedung-gedung istana, masjid, madrasah sebagai peninggalan Daulah Abbasiyah.

 

 Seni Tata Kota

Seni  tata  kota  dan  arsitektur  pada  masa  Daulah  Abbasiyah  bernilai sangat tinggi, banyak bangunan dan kota dibangun dengan teknik tata kota yang berseni tinggi. Diantara kota-kota itu adalah :

  Kota Baghdad

Baghdad dibangun tahun 763 M pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur. Pembangunan kota ini melibatkan 100.000 orang ahli bangunan, terdiri dari arsitek, tukang batu, tukang kayu, pemahat, pelukis, dan lain-lain  yang  didatangkan  dari  Suriah,  Iran,  Basrah,  Mosul,  Kuffah,  dan daerah   –daerah   yang   lainnya.   Biaya   pembangunan   kota   ini   mencapai

4.833.000 dirham.

Kota Baghdad dibangun berbentuk bundar sehingga disebut kota bundar (Al-Mudawwarah). Dikelilingi dua lapis tembok besar dan tinggi. Bagian bawah selebar 50 hasta dan bagian atas 20 hasta, tingginya 90 kaki (27.5 m). Di luar tembok dibangun parit yang dalam, yang berfungsi ganda sebagai saluran air dan benteng pertahanan.

Di tengah kota dibangun istana khalifah diberi nama Qashrul Dzahab (istana emas) yang melambangkan kemegahan dan kejayaan. Di samping istana, dibangun pula Masjid Jami’ Al-Mansyur.

  Kota Samarra

Lima tahun setelah kota Baghdad mengalami kemajuan Khalifah Al- Mu’tashim Billah (833-842 M) membangun kota Samarra. Di dalam kota ini terdapat istana yang indah dan megah, masjid raya, taman kota dengan bunga-bunga yang indah, dan alun-alun. Untuk memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya, dibangun pula pusat-pusat perbelanjaan dan pusat-pusat pelayanan publik.

Selain pembangunan di kota-kota tersebut, dua kota suci umat Islam Makkah dan Madinah juga tidak terlepas dari sentuhan seni arsitektur para penguasaa Daulah Abbasiyah. Terlebih Masjid Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Menurut tradisi, setiap penguasa muslim pada masanya  masing-masing  turut  ambil  bagian  dalm  renovasi  dan pembangunan dua Masjid suci kebanggaan umat Islam tersebut.

 f.    Seni Sastra

Dunia sastra mencapai puncak kejayaannya pada masa Daulah Abbasiyah. Kota Baghdad merupakan pusatnya para penyair dan sastrawan. Bahkan hampir seluruh khalifah Abbasiyah menyukai sastra. Berikut beberapa penyair dan sastrawan yang terkenal saat itu

  Abu Athiyah (760 – 841 M)

  Abu Nawas (741 – 794 M)

  Abu Tamam (w 847 M)

  Al-Buhtury (821 – 900 M)

  Al-Muntanabbi (961 – 967 M)

 

Kota Baghdad terkenal dengan kisah yang melegenda di kalangan umat Islam yaitu cerita tentang 1001 malam (Alfu Lailah Wa Lailah) yang ditulis oleh Mubasyir ibnu Fathik.

Friday, August 21, 2020

MENGENAL DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW DI MEKAH BAGIAN 2

 DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW DI MEKAH

2.   Permulaan Dakwah Nabi Muhmmad Saw.

 Ketika Nabi Muhhamad Saw mencapai usia sempurna, yaitu 40 tahun, Allah SWT mengutusnya   sebagai   pembawa   berita   gembira   dan   pemberi   peringatan   untuk mengeluarkan mereka dari kebodohan yang gelap menjadi cahaya ilmu, yakni diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Peristiwa itu terjadi di bulan juli tahun 610 M. Sebagaimana dijelaskan  oleh  Mahmud  Basya  ahli  falak  bahwa  peristiwa  itu  bertepatan  pada  17 Ramadhan tahun 13 sebelum Hijriyah. Beliau diangkat ketika sedang bertahanus di gua Hira, sebuah di Jabal Nur yang terletak beberapa kilometer sebelah utara kota Makkah. Tempat itu Nabi berusaha menenangkan diri dengan beribadah beberapa malam. Ibadah Nabi Muhammad mengikuti agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Setelah lebih kurang enam bulan Nabi Muhammad berkhalwat dan bertahhannus di gua Hira, maka tanggal 17 Ramadhan, malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu. Malaikat Jibril mengajari dan meminta Nabi untu membaca wahyu itu.

 

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ

.

 

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. AlAlaq [96];1-5)

 Sebelumnya Nabi Muhhamad tidak bisa membaca, lalu Malaikat Jibril berkata: bacalah!,  maka Nabi  Muhhammad     menjawab: saya  tidak  bisa membaca,  lalu  Jibril mendekap beliau dengan keras, kemudian melepaskanya. Kemudian Jibril mengulangi lagi seraya berkata : bacalah!, tapi Nabi Muhammad menjawab : saya tidak bisa membaca terus  Jibril  mendekapnya  dengan  keras  lagi,  sampai  ke  tiga  kalinya  Jibril  berkata: bacalah!, maka Nabi Muhammad bisa membacanya.

Setelah Jibril hilang, maka Muhammad pulang ke rumahnya, maka beliau menceritakan apa yang baru dialaminya kepada istrinya Khadijah. Sambil badannya menggigil meminta untuk diselimuti. Nabi berkata: “selimutilah aku” supaya hilang kegemetaranya. Setelah mereda, Khadijah mengajak Muhammad Saw. Pergi ke rumah Waraqah bin Naufal, anak pamannya yang telah memeluk agama Nasrani di zaman jahiliyah. Ia ahli kitab dia menulis kitab berbahasa ibrani dan menulis injil kedalam bahasa ibrani, saat itu waraqah sudah tua renta dan buta.

Setelah Khadijah menceritakan tentang apa yang menimpa suaminya, Waraqah berkata,  “demi  Tuhan  yang  menguasai  jiwaku  dalam  genggamanya,  sungguh  engkau adalah Nabi umat ini. Telah datang kepadamu Namus (Malaikat Jibril) yang pernah datang kepada Nabi Musa. Sungguh kaummu akan mendustakanmu, mengganggu dan mengusirmu”.

Mendengar penjelasan dari Waraqah, Nabi Muhhamad sedikit tenang, karena masih heran dengan ucapan Waraqah bahwa ia akan dimusuhi dan diusir dari tempat kelahiranya oleh kaumnya, karena beliau tahu mereka mencintainya sebagai orang yang memiliki budi pekerti  mulia  dan  suka  berkata  benar  sehinggga  mereka  menamainya  al-Amin. Terus Waraqah menjelaskan tidaklah seseorang membawa agama yang engkau bawa, melainkan ia dimusuhi. Sebagai wujud pembenaran Waraqah terhadap risalah rasul yang mulia Muhammad, Waraqah berkata jika aku mendapati harimu (masih hidup) aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.

Setelah  turunya  wahyu  yang  pertama,  pertanda  Muhammad  telah  dipilih  Allah seabagi nabi dan rasulnya. Setelah itu tidak turun wahyu lagi selama beberapa hari, para sejarawan bersepakat lamanya wahyu pertama dan kedua adalah 40 hari. Dalam keadaan rindu dan berharap-harap cemas kemudian Jibril datang kembali dengan membawa wahyu

yang kedua yaitu Surah Al-Mudassir: 1-7

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ قُمۡ فَأَنذِرۡ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ

 

Artinya   :   Hai   orang   yang   berkemul   (berselimut).   bangunlah,   lalu   berilah peringatan.  dan  Tuhanmu  agungkanlah.  dan  pakaianmu  bersihkanlah.  dan  perbuatan dosa  tinggalkanlah.  dan  janganlah  kamu  memberi   (dengan  maksud)   memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah

Semenjak turunya wahyu ini yang di ikuti dengan wahyu-wahyu berikutnya, yaitu Surah Al Mudassir yang berisi perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad berdakwah menyiarkan ajaran Islam kepada umat manusia. Mulailah beliau berdakwah masyarakat terutama  keluarganya  terdekatnya.  Dakwah  ini  dilakukan  secara  sembunyi-sembunyi

berdasarkan QS. Asy Syuara’ 214-216:

وَأَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ فَإِنۡ عَصَوۡكَ فَقُلۡ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ

 

Artinya: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan" (QS. Asy Syuara’ 214-216)

Sejak itulah, mulailah Nabi Muhammad berdakwah kepada kerabatnya, para kerabat itu adalah bani Hasyim, bani Al-Muttalib, bani Naufal dan bani Abd Syam anak-anak Abdu Manaf.   Ada yang menerima, ada pula yang menolak dengan halus dan ada pula yang menolak dengan kasar, seperti Abu Lahab. Ada dua paman Nabi Muhammad yang menolak dakwah nabi yaitu Abu Thalib dan Abu Lahab. Keduanya  tidak mau melepaskan agama nenek moyangnya sampai meninggal dunia. Tapi keduanya memiliki sikap yang berbeda terhadap dakwah Nabi. Abu Thalib membiarkan Nabi Muhammad Saw menyebarkan dakwahnya, bahkan melindunginya dari gangguan dan acamanan pembesar- pembesar Quraisy. Sedangkan Abu Lahab sangat menentang dakwah Nabi, bahkan mengancam dan berniat membunuh Nabi Muhammad. Allah mengabadikan cerita Abu Lahab di surat Al Lahab.

Pada masa periode awal ini, kerabat Nabi yang menerima dakwahnya antara lain istrinya, Siti Khadijah, sebagai wanita pertama yang masuk Islam. Lalu sepupunya, Ali bin Abi Thalib, sebagai orang yang pertama masuk Islam dari Anak. Budaknya,  Zaid bin Haritsah, sebagai orang pertama masuk Islam dari hamba sahaya. Dan shahabatnya, Abu Bakar Shiddiq, sebagai orang yang pertama masuk Islam dari laki-laki dewasa.

Selain mereka yang masuk Islam pada masa dakwah sembunyi-sembunyi adalah Said bin Zaid Al-Adawi Al-Quraisy dan istrinya Fatimah binti Al-Khattab saudara perempuan Umar dan ummu Al-Fadhl, Lubabah binti al-HaritsAl-Hilaliyah istri Al-Abbas bin Abdul Muttalib dan Ubaidillah ibnul Harits bin Abdul Muttalib bin Hisyam, Abu Salamah bin Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi Al-Quraisyi putra bibi Rasulullah, Usman bin Madh’un beserta kedua saudaranya, Al-Aqram bin Abil Arqam Al-Makhzumi Al-Quraisy.

Dakwah Nabi secara sembunyi-sembunyi ini berlangsung selama 3 tahun. Beliau berjuang keras tanpa mengenal lelah, meski banyak ejekan dan gangguan yang dijukan kepadanya dan para sahabatnya. Dakwah secara sembunyi-sembunyi ini berahir ketika turunlah perintah untuk berdakwah secara terang-terangan. Firman Allah surat Al Hijr 94 yang memerintahkan berdakwah secara terang-terangan.

فَٱصۡدَعۡ بِمَا تُؤۡمَرُ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

 

Artinya : Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik

 Setelah turun ayat ini, Nabi Muhammad Saw berdakwah secara terang-terangan ke seluruh lapisan masyarakat, baik golongan bangSawan maupun budak serta negeri-negeri lain dilakukan pertama kali di Bukit Shafa. Ketika itu, pamannya, Abu  Lahab sangat menentang keras dakwah Nabi. Peristiwa tersebut diabadikan dengan surat Al Lahab.

Selama 13 tahun di Makkah (610-622 M), Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah yang turun secara berangsur-angsur. Surat-surat yang diturunkan selama Nabi Muhammad di Makkah dinamakan surat Makkiyah yang meliputi 89 surat dan 4.726 ayat.

 3.   Perhatian dan Prioritas Dakwah Nabi Muhhamad Saw.

Selama  Nabi  Muhammad  berdakwah  di  Makkah,  ada  masalah-masalah    yang menjadi perhatian dan  PRIORITAS yang ingin dicapai oleh Nabi Muhammad, masalah- masalah berikut:

 a.   Mengajarkan Ketauhidan

Tantangan dalam berdakwah Nabi Muhammad masa di Makkah adalah meluruskan akidah masyarakat Arab Jahiliyyah, yang mana mereka memiliki kepercayaan berbagai tuhan (Polytheisme), seperti penyembahan berhala, penyembahan bulan dan bintang, penyembahan jin, ruh, dan arwah nenek moyang, dan ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Islam datang dengan membawa ajaran tauhid, penyembahan hanya kepada Allah yang Maha Esa, tak beranak dan tak diperanakkan. Begitu juga yang berkaitan dengan kebudayaan. Kebudayaan Arab pra Islam sangat dipengaruhi oleh mitologi dan ajaran- ajaran sesat lainnya, sedang Islam membawa peradaban atau kebudayaan baru berdasarkan petunjuk Allah dan Al-Qur’an.

 b.  Kondisi Masyarakat Makkah yang Menyembah Berhala

Nabi  Muhammad  Saw  mendapat  tugas  mengajak  masyarakat  Makkah  untuk menyembah  Allah  Saw,  Tuhan  yang  Maha  Esa.  Ajakan  Nabi  Muhammad  Saw

bertentangan dengan kondisi serta kebiasaan masyarakat   masyarakat Makkah yang menyembah berhala.

c.   Memberi Khabar Tentang hari Pembalasan

Masyarakat Arab pra Islam tidak percaya kepada   hari   kebangkitan,   hari pembalasan, sampai ada diantara mereka bertanya-tanya, mana mungkin tulang- belulang yang sudah hancur dapat dibangkitkan dan dihidupkan kembali. Padahal Islam mengajarkan dan memperingatkan kepada manusia, bahwa dunia ini hanya sementara dan tempat yang abadi adalah akhirat.

Nabi  Muhammad  memprioritaskan  dakwahnya  kepada  ajakan  untuk mempercayai  adanya  hari  pembalasan.  Mereka  perlu  menjaga  kehidupannya  untuk selalu sesuai dengan aturan dan tuntutan Allah Saw. Setiap kebaikan akan mendapat balasan kebaikan. Sebaliknya setiap kejahatan akan mendapat balasan yang setimpal.Nabi Muhammad berusaha menyakinkan para pengikutnya akan janji Allah bagi orang yang beriman.

 d.  Merubah Perilaku Masyarakat Jahiliyah

Dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat Arab pra Islam terdapat pada suatu tradisi yang melanggar etika (akhlak) dan hak asasi manusia: seperti perjudian, minum –minuman keras, perampok, perzinahan dan perbuatan yang melanggar hukum dan tantanan  sosial  masyarakat.  Sementara  Islam  selalu mengajarkan  perbuatan  terpuji, seperti menolong sesama manusia, melarang melakukan fitnah, mengambil hak orang yang bukan miliknya sendiri, melarang mabuk-mabukan, melarang perzinahan, melarang penguburan bayi hidup-hidup, dan ajaran terpuji lainnya.

Kondisi  masyarakat  Makkah  yang  terkenal  dengan  masa  jahiliyyah,  bukan mereka bodoh dalam intelektual, tapi mereka bodoh dalam prilaku yang cenderung merusak tantanan sosial, dan tatatan pribadi. Mereka terbiasa melakukan judi, pembunuhan dan meminum hamar.

Nabi Muhammad secara bertahap merubah prilaku-prilaku mereka sehingga menjadi makhluk yang baik dan benar. Nabi Muhammad mencontohkan dalam kehidupannya sehari-hari. Nabi Muhammad sudah terkenal dengan al-Amin sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Masyarakat Makkah mengakui akan kebaikan dan kejujuran Nabi Muhammad Saw. Al Quran mengabadikan akhlak Nabi Muhammad

dalam surat Al Qalam ayat 4.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ

 

Artinya . dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

 e.   Mengangkat dan Melindungi Hak Asasi Manusia

Di dalam kehidupan masyarakat Arab pra Islam terdapat tradisi perbudakan. Memperbudak atau menjual belikan budak seperti berdagang dagangan lainya. Dan perbuatan itu mereka lakukan tanpa penyesalan seolah tanpa dosa. Sedangkan menurut ajaran Islam manusia itu sama derajatnya, hanya takwa yang membedakan mereka. Kehadiran Islam justru untuk mengangkat martabat mereka yang tertindas seperti para dhuafa  dan  fakir  miskin  .Perbedaan  inilah  pada  akhirnya  membawa  perbenturan dahsyat antara masyarakat Arab kafir dan mukmin di tanah Arab Makkah.

Selain itu, status wanita dianggap sebagai aib keluarga. Kebiasaan membunuh dan  mengubur  anak wanita  menjadi  alat  untuk menghilangkan  aib keluarga.  Islam mengangkat derajat wanita dalam posisi yang tinggi dan terhormat.

Tuesday, August 11, 2020

MENGENAL DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW DI MAKKAH BAGIAN 1

 DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW. DI MAKKAH

 Sebelum melangkah membahas tentang dakwah Nabi Muhammad di Makkah, maka mari kita bahas dulu tentang riwayat hidup Nabi Muhhammad SAW dan serta perjuangan beliau sebelum menjadi Nabi. Berikut sejarah singkat Nabi Muhammad.


1.   Riwayat Hidup Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad Lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah yang bertepatan dengan 20 April 571. Ayahnya bernama Abdullah Abdul Muttalib dan Ibunya bernama Amina binti Wahab. Nasab Bapak Dan Ibu beliau bertemu pada datuk beliau yang bernama Kilab. Jika di runut sampai atas nasab beliau berahir pada Nabi Ismai ibnu Ibrahim bapak orang Arab al-Musta’ribah.

Silsilah Nabi  Muhammad sangat jelas dari keturunan pemuka dan pemimpin suku Quraisy. Ayahnya bernama Abdullah bin Abd al-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin kilab Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Sedang ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab.


Beliau  berasal  dari  suku  Asli  Quraisy yang  mana Suku Quraisy adalah suku yang mempunyai kedudukan utama dalam kemuliaan dan kedudukan yang tinggi diantara Bangsa Arab. Menurut Syekh Khudari tidaklah engkau dapati dalam silsilah bapak-bapaknya Nabi, melainkan orang-orang mulia, tidak ada orang rendah dikalangan mereka, tetapi mereka semuanya adalah pemuka dan pemimpin. Bahkan Ayah beliau Abdullah adalah putra bungsu Abdul Mutthalib dan di juluki Adz- dzabih karena menurut riwayat Abdul Mutthalib bernadzar apabila ia dikarunia sepuluh anak lelaki, maka dia akan menyembelih  salah  satu  dari mereka, ketika diundi, ternyata undianya jatuh pada Abdullah. Ketika hendak  disembelihnya,  Quraisy  melarangnya  dan  ia menebusnya dengan seratus ekor unta.

Muhammad lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya Abdullah meninggal tiga bulan setelah menikahi Aminah. Saat itu usia Abdullah kurang lebih 25 tahun. Nabi Muhammad dilahirkan di rumah Abi Thalib di Syi’ib bani Hasyim. Perempuan yang bertindak sebagai bidanya adalah Asy-Syaffa’ Ummu Abdurrahman bin Auf. Ketika Muhammad Lahir Ibunya mengirim utusan kepada kakeknya untuk memberi kabar. Maka Abdul Mutthalib datang dengan gembira dan menamainya dengan nama Muhammad.

Dalam awal perkembangannya Muhammad disusui dan dibesarkan oleh ibu kandungnya sendiri; Aminah binti Wahab. Setelah itu Muhammad disususi oleh Tsuaibah Aslamiah yang merupakan budak pamannya Abu Lahab. Setelah itu Muhammad kecil sususi oleh Halimah binti Abi Dzuaib As sa’diyah, istri al-Harits bin Abd al’Uzza. pada usia kurang dari enam tahun terjadilah pristiwa pembelahan dada Muhammad untuk mengeluarkan bagian syaitan darinya oleh malaikat Jibril dan kejadian itu disampaikan pada  ibunya. Setelah  kejadian itu  tahun  Muhammad  diasuh ibunya  sendiri  pada  usia kurang dari enam tahun. Ketika Muhammad berusia enam tahun, ibunya tercinta, Aminah binti  Wahab  meninggal,  dimakamkan  di  Abwa.  Ketika  ia  dalam  perjalanan  pulang bersama Muhammad dan ditemani oleh Ummu Aiman menuju Makkah setelah mengunjungi paman-pamnya dari Bani Adiy bin Najjar di Madinah.

Sepeninggal ibunya, menurut Syihab, Muhammad kecil diantarkan oleh Ummu Aiman kepada  Kakenya,  Abd  al  Mutthalib.  Sejak  itu  Muhammad  dibawah  pengawasan  dan asuhan abdul Mutthalib. Abd al Mutthalib sangat menyayangi Muhammad melebihi anak- anaknya sendiri. Namun 2 tahun setelah itu Abdul Muthalib wafat karena sudah usia lanjut. Saat itu usia Muhammad 8 tahun. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Thalib. Meski Abu Thalib bukanlah orang kaya tetapi ia cukup perhatian dalam merawat dan mendidik Muhammad Saw hingga dewasa meski Abu Thalib memiliki banyak anak. Seperti juga Abdul Mutthalib, Abu Thalib adalah tokoh yang disegani dan dihormati orang Quraiys. Muhammad berada dalam asuhan dan lindungan Abu Thalib hingga tahun ke-10 kenabian, setelah itu pamannya meninggal.

Dalam usia muda muda Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan  kambing penduduk  Makkah.  Melalui  kegiatan  pengembalaan  ini  dia  menemukan tempat untuk berfikir dan merenung. Dalam suasana demikian, dia ingin melihat sesuatu dibalik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu  duniawi,  sehingga  terhindar  dari  berbagai  macam  noda  yang  dapat  merusak namnaya, karena itu sejak muda dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.

Menurut al-Khudhari mengatakan bahwa ketika Muhammad berusia 12 tahun beliau dibersama   pamannya, Abu Thalib melakukan perjalanan ke Syam untuk berdagang bersama rombongan kafilah, para saudagar dari Makkah. Setibanya di Bashrah di awasi oleh seorang pendeta yang dikenal dengan Buhaira, meski nama sebenarnya adalah Jirjis (george). Setelah rombongan Abu Thalib berhenti dan beristirahat, Buhaira menemui mereka layaknya menyambut tamu.  Setelah itu, ia menjelaskan kepada Abu Thalib bahwa anak ini kan menjadi utusan Allah. Buhaira mengenalinya dari sifat-sifat kenabian pada

diri Muhammad yang ia lihatnya dalam kitab-kitab suci mereka. Setelah itu, Buhaira menyarankan  kepada  Abu  Thalib  agar  membawa  pulang  kembali  anak  tersebut  ke Makkah, sebelum sampai Syam. Karena Buhaira hawatir dirinya akan dijahati oleh orang- orang Yahudi. Kemudian beliau dibawa pulang kembali ke Makkah bersama para pembantunya. Perkataan ini sering diucapkan Ahli kitab; Yahudi dan Nasrani sebelum

Rasul diutus, Firman Allah dalam surat al Baqarah:89

 

وَلَمَّا جَآءَهُمۡ كِتَٰبٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٞ لِّمَا مَعَهُمۡ وَكَانُواْ مِن قَبۡلُ يَسۡتَفۡتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِۦۚ فَلَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ

89.  Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.

Ketika  Muhammad  berusia 20 tahun terjadilah perang  Fijar,  yaitu   perang antara Kinanah   yang   bersekutu   dengan   Quraisy   melawan   Qais,   namun   peperangan   ini dimenangkan oleh suku Qais. Peperangan Fijar ini terjadi beberapa kali.

Ketika  usia  Muhammad  mencapai  25  tahun,  Muhammad  berangkat  ke  Syam membawa barang dagangan saudagar wanita yang kaya raya yaitu Khadijah binti Khuwailid. Dalam catatan sejarah Khadijah adalah saudagar janda yang kaya raya, ia memperkerjakan kaum lelaki untuk menjalankan usaha daganganya dengan sistem bagi hasil. Ketika Khadijah mendengar tentang kejujuran Muhammad dan perkataanya yang benar sehingga kaumnya menjulukinya dengan sebutan al-Amin (orang yang terpercaya), maka ia tertarik untuk memperkerjakan Muhammad untuk menjalankan perdaganganya ke Syam.

Dalam perjalanan perdagangan, Muhammad ditemani oleh salah satu pembantu Khadijah yang bernama Maisyarah. Tawaran tersebut diiyakan oleh Muhammad dengan sistem bagi hasil. Untuk itu, ia berangkat ke Syam untuk menjual barang daganganya Khadijah. Dalam catatan sejarah di ketahui bahwa Muhammad Saw. Berhasil menjual barang dagangan Khadijah hingga memperoleh keuntungan yang besar. Hal itu karena banyak pedagang menilai, cara Muhammad berdagang dilakukan dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Setelah mendengar langsung cerita kelebihan yang ada pada diri Muhammad, mulai dari sifat, sikap, tutur kata hingga kesaksianya banyak pihak, mengenai kejujuran dan keutamaan Muhammad, maka kemudian Khadijah melamar Muhammad. Saat Itu usia Muhammad Saw 25 tahun sedangkan Khadijah berumur 40 tahun.

Sebelum   menikah   dengan   Muhammad   Khadijah   adalah   seorang   janda   yang mempunyai  anak  dua  yang  meninggal  sebelum  dewasa.  Dari  perkawinanya  dengan

khadijah Nabi Muhammad di karuniai beberapa anak yaitu ; Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqaiyah, Ummu Kulsum dan Fatimah. Muhammad hidup bersama Khadijah selama 25 tahun dan tidak pernah menikah dengan perempuan lain selama Khadijah masih hidup.

Ada sebuah kejadian penting yang perlu di contoh sebagai tindakan bijak dari seorang Muhammad Saw. Pada usia 35 tahun datanglah banjir bandang di Makkah sehingga merusak dinding Kakbah, maka orang-orang Quraisy bermaksud merenovasi Kakbah denganmerobohkan kakbah dulu untuk meninggikanya dan membangun atap. Maka berkumpullah suku-suku Quraisy untuk merencanakan pembangunan itu. Akan tetapi mereka takut merobohkanya karena kedudukan Kakbah di hati mereka. Maka al-Walid ibnu Mughirah berkata: apakah dengan merobohkanya kalian ingin memperbaiki atau merusaknya?, maka mereka menjawab: kami ingin memperbaikinya. Al-Walid berkata : sesungguhnya Allah tidak membinasakan orang-orang yang memperbaikinya. Maka Walid mulai merobohkanya dan mereka mengikutinya.

Kemudian orang-orang Quraisy membongkar dan merobohkan Kakbah hingga mencapai maqom Ibrahim. Maka mereka keluarkan Hijr darinya dan memulai membangun dinding Kakbah. Adapun yang memimpin pembangunan ini adalah seorang tukang kayu yang  bernama  Baqum.  Para  pemuka  Quraisy membawa  batu-batu  di  atas leher-leher mereka, diantara mereka adalah al-Abbas dan Rasulullah. Untuk setiap rukun dikhususkan

sekelompok  pembesar  yang  mengangkut  batu  batu  kesitu,  kemudian  membangunnya kembali.

Ketika pembangunan sudah sampai pada peletakan kembali batu hajar al-Aswad, maka mereka  bermaksud  meletakkan  Hajar  al-Aswad  pada  tempatnya  semula,  maka  para pemuka mereka berselisih tentang siapa yang berhak meletakkanya. Mereka berebut melakukan ini hingga nyaris berkobar api peperangan diantara mereka. Perselisihan ini terjadi  selama  empat  hari  empat  malam.     Perselisihan  itu  terus  memuncak  dan dihawatirkan akan memicu terjadinya peperangan antar suku, maka Abu Umayyah Al- Mughirah Al Makzumi paman Khalid ibnu Walid yang merupakan orang tua kalangan orang Quraisy berkata : Hai kaumku, janganlah kalian bertengkar dan putuskan siapa yang kalianridhai keputusanya. Lalu mereka menjawab: kami serahkan urusan ini kepada orang pertama yang masuk Kakbah memalui pintu masjid. Pendapat ini disetujui oleh mayoritas kabilah. Mereka puas Setelah mengetahui ternyata yang masuk ke Kakbah lewat pintu Masjid adalah Muhammad.   Maka mereka berkata kami setuju dengan Muhammad Al- Amin.

Untuk menyelesaikan perselesihan tersebut, Muhammad Saw menggelar sorban, belaiu mengambil Hajar al-Aswad  dengan  kedua tanganya  di tengah-tengah  sorban tersebut. Kemudian Muhammad meminta untuk seluruh kepala kabilah (suku) yang berselisih untuk mengangkat dan membawanya ke tempat peletakanya Hajar al-Aswad. Setelah sampai pada tempat semula, lalu beliau   sendiri yang mengambil dan meletakkannya pada tempatnya semula.

Keberhasilan Muhammad dalam menyelesaikan masalah konflik tersebut membuat orang-orang Quraisy akan kebijakannya dalam meredam konflik yang hampir menimbulkan pertumpahan darah. Ini menunjukkan betapa Muhammad mempunyai jiwa yang bijak dalam memimpin dan mengatasi masalah sosial.

Friday, August 7, 2020

LANJUTAN MATERI DAULAH ABBASIYAH

 KEMAJUAN  PERADABAN  DAN  KEBUDAYAAN  ISLAM  MASA  DAULAH ABBASIYAH


Daulah  Abbasiyah  yang  berkuasa  selama  lima  setengah  abad,  adalah  salah  satu pemerintahan dalam sejarah Islam yang sangat mementingkan usaha   perkembangan peradaban Islam. Telah banyak prestasi yang ditorehkan oleh Daulah Abbasiyah, dari perluasan wilayah, pengembangan ilmu pengetahuan hingga seni bangunan arsitektur.

 a.   Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Periode awal pemerintahan, Daulah Abbasiyah memiliki   khalifah-khalifah   yang   memiliki   perhatian besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, seperti Khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur. Dikenal sebagai seorang khalifah yang cinta ilmu pengetahuan, sehingga harta dan kekuasaaanya dimanfaatkan untuk pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Pada periode inilah landasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan disiapkan. Khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur secara langsung meminta kepada para ilmuan untuk secara serius   mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya  untuk kemaslahatan ummat manusia. Kerjasama yang apik antara ilmuan dan pemerintah melahirkan para ilmuan muslim dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Kedokteran, Filsafat, Kimia, Botani, Astronomi, Matematika, dan lain-lain.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, yaitu ;

1. Terjadinya  asimilasi  budaya,  bahasa,  pengetahuan  antara  bangsa  Arab  dengan bangsa lainnya.

2. Gerakan penerjemahan berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa asalnya ke bahasa Arab. Gerakan penerjemahan ini berlangsung sejak Khalifah Abu Ja’far Al- Mansyur  hingga  Khalifah  Harun  Ar-Rasyid.  Buku-buku  klasik  Romawi  dan Yunani yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu filsafat, astronomi, farmasi, dan seni budaya dialihbahasakan dalam bahasa Arab.

3. Pendirian pusat studi dan kajian yang diberi nama  Baitul Hikmah. Tempat ini

bukan saja hanya menjadi pusat studi orang-orang di wilayah Baghdad, tapi hampir

4. Pembentukan  Majelis  Munadzarah  pada  masa  Khalifah  Abdullah  Al-Makmun menjadi pusat kajian yang mengupas segala persoalan hukum keagamaan.

 b.  Penertiban Administrasi Pemerintahan

Usaha  membangun  peradaban  emas  juga  terjadi  pada  bidang  administrasi pemerintahan Daulah Abbasiyah.

  Pengangkatan Wazir (Perdana Menteri) yang bertugas membantu khalifah dalam menjalankan roda pemerintahan. Wazir dibantu oleh beberapa departemen ;

1.   Diwanul Kharij ; Departemen Luar Negeri

2.   Diwanul Ziman ; Departemen Pengawasan Urusan Negara

3.   Diwanul Jundi ; Departemen Pertahanan dan Keamanan

4.   Diwanul Akarah ; Departemen Tenaga Kerja dan Pekerjaan Umum

5.   Diwanul Rasa’il ; Departemen Pos dan Telekomunikasi.

 Pengangkatan Ra’isul Kitabah (Sekretaris Negara) yang memimpin Diwanul Kitabah (Sekretariat Negara). Dalam menjalankan tugasnya Ra’isul Kitabah dibantu oleh lima orang Katib (Sekretaris), yaitu :

1. Katib Rasa’il ; sekretaris bidang persuratan

2. Katib Kharraj ; sekretaris bidang perpajakan dan kas negara

3. Katib Jundi ; sekretaris bidang kemiliteran, pertahanan dan kemanan

4. Katib Qada ; sekretaris bidang hukum dan perundang-undangan

5. Katib Syurtah ; sekretaris bidang kepolisian dan keamanan sipil

  Pengangkatan kepala daerah untuk menjaga daerah wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah yang dipimpin oleh gubernur (Amir). Untuk memudahkan kordinasi pemerintah pusat dan daerah, di bawah gubernur dibentuk pemerintah desa (Qaryah) yang dipimpin oleh Syaikhul Qaryah (Kepala Desa).

  Pembentukan  Mahkamah  Agung,  yang  menangani  beberapa  bidang  hukum, seperti ;

1. Al-Qadi ; mengadili perkara agama, hakimnya disebut Qadi

2. Al-Hisbah ; mengadili perkara umum, baik pidana maupun perdata, hakimnya disebut Al-Mustahsib

3. An-Nazar fil Mazalim ; pengadilan tingkat banding setelah dari pengadilan Al- Qadi atau Al-Hisbah, hakimnya disebut Sahibul Mazalim.

c. Politik dan Militer

  Bidang Politik

Dalam bidang politik Daulah Abbasiyah menjalan hubungan persahabatan yang baik dengan negara-negara lain, diantaranya:

1.       Menjalin kerjasama politik dengan Raja Frank di sebagian wilayah Andalusia (Spanyol). Tujuannya adalah, untuk mengantisipasi meluasnya pengaruh Daulah Umayyah

2.       Menjalin  hubungan  dengan  Afrikan  Barat.  Tujuannya  adalah,  menambah kekuatan dan keuasaan Abbasiyah di Baghdad, Irak.

  Bidang Militer

Daulah  Abbasiyah  pernah  mencapai  profesionalisme  militer  yang  terjadi  pada periode pertama dan periode kedua pemerintahannya. Sekitar 100 tahun lamanya

kebijakan politik dan militer sepenuhnya mandiri ditangan para khalifah Daulah

Setidaknya  ada  empat  periode  kepemimpinan  Daulah  Abbasiyah  dalam mewujudkan kemandirian politik dan militer :

1.       Periode pertama (750-847 M), kebijakan militer yang diambil pada periode ini merupakan usaha para khalifah dalam memberikan landasan pemerintahan yang tangguh dan militer yang kuat.

2.        Periode kedua (847-946 M), periode ini kebijakan politik dan militer Daulah Abbasiyah banyak dipengaruhi oleh orang-orang Turki. Hal ini mengakibatkan banyak  orang  Turki  yang  menduduki  posisi  penting  dalam  jabatan  militer Daulah Abbasiyah. Orang-orang Turki yang banyak menduduki posisi penting itu tidak dapat dikendalikan, mereka mampu mengontrol kekuasaan bahkan banyak gubernur dan panglima tentara yang menyatakan diri sebagai khalifah. Dari sini tanda-tanda perpecahan dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah mulai tampak.

3.       Periode ketiga (946-1094 M), munculnya kekuatan politik dari Bani Buwaihi yang   beraliran   Syiah.   Mereka   dapat   mengontrol   pemerintahan   Daulah Abbasiyah, bahkan mampu menekan khalifah Abbasiyah saat itu khalifah Al- Mustakfi. Agar menjadikan Ahmad Buwaihi sebagai Amirul ‘Umara (Panglima Tentara).  Sejak  saat  itu  khalifah  Daulah  Abbasiyah  tidak  lagi  memiliki kekuasaan penuh, karena roda pemerintahan dipengaruhi oleh dominasi Bani Buwaihi.

4.       Periode keempat (1094-1258 M), pemerintahan Daulah Abbasiyah di bawah kendali orang-orang Seljuk dari Turki. Mereka mampu menghilangkan dominasi Bani  Buawaihi  yang berkuasa lama dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah. Selama  periode  inilah,  Bani  Seljuk  berhasil  mengambil  alih  kekuasan  dan jalanya roda pemerintahan dari tangan khalifah. Roda pemerintahan Daulah Abbasiyah tidak lagi berada di tangan khalifah yang sah, para khalifah Daulah Abbasiyah hanya diperkenankan mengurusi persoalan-persoalan agama. Kekhalifahan Daulah Abbasiyah hilang di tahun 1258 M saat tentara Mongol yang dipimpin Hulagu Khan memorak-porandakan kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah.

yang dipimpin Hulagu Khan memorak-porandakan kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah.

 

 

Thursday, August 6, 2020

MENGENAL BAHAN SERAT BAGIAN II

BAHAN KERAJINAN SERAT

b. Alat Produksi Kerajinan  Serat  Tumbuhan

 Alat yang digunakan untuk membuat produk kerajinan dari bahan serat alam cukup  banyak. Peralatan digunakan sesuai kebutuhan. Peralatan di bawah ini hanya sebagian saja dari aneka peralatan yang dapat digunakan untuk membuat produk kerajinan dari bahan daun atau  serat alam.  Identifikasilah  peralatan lain yang  dapat membantu pekerjaan pembuatan kerajinan

Peralatan yang dapat digunakan untuk mengolah daun atau serat alam adalah gunting, cutter, pisau, lem tembak, dan  jarum jahit.

Ada  pula  peralatan  berat  yang  diperlukan  dalam  pembuatan kerajinan tertentu, seperti mesin jahit, mesin tenun, mesin pemisah sabut  kelapa, dan  aneka mesin  lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan serat alam.

 c.  Produk  Kerajinan  dari Serat  Tumbuhan

Mesin yang dapat digunakan untuk mengolah daun atau serat alam antara lain mesin jahit untuk teknik jahit,  Alat tenun untuk menenun,  mesin pemisah sabut kelapa.

Pembuatan produk  kerajinan bahan serat tumbuhan,  baik  yang dibuat  sebagai bahan baku  tekstil  ataupun  yang  dibuat  sebagai fungsional memiliki prosedur yang berbeda. Bahan serat alam yang berasal dari serat/sabut kelapa dapat diproduksi sebagai keset, atau bahkan sebagai isi bantal. Bahan serat alam dari daun/pelepah pisang, pandan, atau eceng gondok dapat diproduksi menjadi berbagai bentuk  kerajinan yang memiliki  fungsi  pakai  dan  juga fungsi  hias dengan  menggunakan  teknik  anyam.



 2. Produk  Kerajinan  Serat  Hewan

 Pernahkah kamu  melihat  kerajinan yang menggunakan  bahan dasar serat hewan. Serat hewan yang biasa dibuat untuk bahan dasar kerajinan adalah bulu domba, serat ulat sutra, bulu biri-biri, dan kulit hewan. Apakah di daerahmu menghasilkan banyak semacam ini?

Pernahkah kamu melihat bulu domba? Bulu domba memiliki ketebalan yang cukup untuk dibuat kerajinan fesyen seperti shal, baju hangat, kaos kaki, rompi, topi, sepatu, dan tas. Ada pula yang dibuat menjadi sarung bantal kursi, dan taplak. Daerah penghasil bulu domba  sebagai produk

kerajinan di  antaranya Tapos  Indramayu.  Perajin daerah  ini  menyulap bulu domba menjadi hiasan yang menarik dan kreatif. Masih banyak lagi produk kerajinan dari bahan serat hewan ini sudah digeluti oleh pengrajin di beberapa daerah, melihat semakin variatifnya minat masyarakat.

a. Bahan Serat Hewan

Di bawah  ini merupakan bahan serat dari  hewan yang dapat  diolah menjadi produk  kerajinan. Pengolahan yang dilakukan cukup  sederhana yaitu dikeringkan secara alami dengan sinar matahari langsung.

1) Serat wol dari bulu domba

2) Serat sutra dari kepompong ulat sutera

3) Serat dari bulu alpaca

 beberapa tahap pengolahan serat Hewan, seperti pencukuran, pembersihan dengan cara pencucian,  pengeringan, dan kemudian dipintal.  Hasil dari pemintalan diperoleh benang yang dapat dijadikan sejumlah produk yang bernilai jual tinggi. Produk yang dihasilkan dari bulu domba sering diolah dengan teknik  tenun. Serat bulu domba  atau wol  memiliki  kelebihan di antaranya berat, hangat, dan halus. Oleh sebab itu, bahan serat ini cocok dimanfaatkan sebagai produk fesyen.

Mesin yang dapat digunakan untuk mengolah serat hewan a. mesin pemintalan, b. Mesin penggulung benang hasil pemintalan.

 b. Alat Produksi Kerajinan  Serat  Hewan

Alat yang digunakan untuk  membuat  produk  kerajinan dari bahan serat  alam  cukup  banyak.  Peralatan digunakan  sesuai kebutuhan. Peralatan di bawah ini hanya sebagian saja dari aneka peralatan yang dapat  digunakan  untuk  membuat  produk  kerajinan dari  bahan serat hewan. Identifikasilah   peralatan lain  yang  dapat  membantu pekerjaan pembuatan kerajinan. Peralatan yang dapat digunakan untuk mengolah daun atau serat alam Hewan. a. gunting, b. alat pencukur bulu, c. baskom dan c. jarum jahit.

Ada pula peralatan berat yang diperlukan dalam pembuatan kerajinan tertentu, seperti alat pintal dan alat penggulung benang. Alat tersebut dapat dibuat dalam bentuk tradisional

 c. Produk  Kerajinan  dari Serat  Hewan

Pembuatan produk  kerajinan bahan serat hewan, baik yang dibuat sebagai bahan baku  tekstil  ataupun  yang dibuat  sebagai fungsional memiliki prosedur yang berbeda. Bahan serat hewan dari sutra dapat diproduksi menjadi kain sutra. Sedangkan kain sutra sendiri masih dapat diolah kembali menjadi berbagai produk kerajinan lainnya, misalnya batik, kain ikat celup, busana, dan syal. Bahan serat hewan dapat diproduksi menjadi berbagai bentuk kerajinan yang memiliki fungsi pakai dan fungsi hias dengan menggunakan teknik jahit, tenun, dan rajut.

 

F. Kemasan Produk Kerajinan Bahan Serat

 Penyajian sebuah produk kerajinan disebut juga dengan kemasan. Kemasan telah menjadi bagian penting dari sebuah karya. Saat ini kemasan sebuah produk turut menentukan apakah produk tersebut layak dikatakan memiliki kualitas lebih atau biasa saja. Bentuk kemasan sangat membantu sebuah produsen mengenalkan produk. Bentuk kemasan sangat membantu

para pengrajin atau produsen mengenalkan dan mendekatkan produk kepada konsumennya. Hanya dalam beberapa detik saja sebuah kemasan dapat merubah cara pikir seseorang dari tidak tertarik menjadi tertarik untuk terhadap sebuah produk.

  Dilihat dari fungsinya, kemasan memiliki empat fungsi utama, yaitu :

1.  menjual produk,

2.  melindungi produk,

3.  memudahkan penggunaan produk, dan

4.  memperindah penampilan produk.

 Keempat fungsi tersebut penting diperhatikan agar dapat meningkatkan daya  jual  produk.  Kemasan  sebagai  pelengkap  produk  dengan  tujuan agar produk terlihat lebih menarik. Bahan dasar dari kemasan itu sendiri sangat bervariasi, seperti logam, plastik, kayu, serat alam, kardus, kaca, dan mika.Pilihan bahan kemasan harus disesuaikan dengan jenis produk kerajinan yang akan dikemas. Penting untuk dipahami bahwa produk yang diperuntukkan dijual, maka kemasan harus lebih berguna untuk melindungi keamanan karya dari kerusakan, sedangkan jika untuk dipamerkan maka kemasan lebih berfungsi sebagai penunjang produk utama.

latihan soal silahkan jawab latihan soal:

1. Sebutkan 5 produk kerajian bahan serat alam dari tumbuhan

2. Sebutkan 5 Produk kerajinan dari bahan serat alam hewan

APAKAH MASYARAKAT MADINAH RESPON DENGAN DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW ?

RESPON PADA DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW. DI MADINAH Untuk memperluas wawasan tentang Respon masyarakat Madinah terhadap dakwah Nabi Muhammad ...