Tuesday, September 1, 2020

Respon Masyarakat Makkah Terhadap Dakwah Dakwah Nabi Muhammad Saw

 Respon Masyarakat Makkah Terhadap Dakwah Dakwah Nabi Muhammad Saw

Pada umumnya, orang kafir Quraisy tidak senang menerima kehadiran agama Islam di tengah-tengah kehidupan mereka. Para tokoh msyarakatnya mulai menyebarkan isu yang tidak benar mengenai ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. sehingga banyak masyarakat yang terpengaruh oleh isu-isu yang menimbulkan fitnah tersebut.

Salah seorang tokoh masyarakat Quraisy yang selalu menghalangi gerakan dakwah Nabi Muhammad Saw. adalah Abu Lahab. Ia mulai menghasut masyarakat Arab Quraisy supaya membenci Nabi Muhammad Saw. dan Islam. Bahkan Abu Thalib, paman Nabi yang memelihara dan mengasuhnya sejak kecil juga dihasut untuk melarang Nabi Muhammad Saw. agar tidak menyebarkan ajaran Islam. Ia mendapat ancaman dan dipaksa untuk memenuhi keinginan masyarakat Quraisy tersebut.

Pada suatu ketika, Abu Thalib membujuk Nabi  Muhammad Saw. agar bersedia menghentikan kegiatan dakwahnya karena banyak tokoh masyarakat kafir Quraisy yang mengancamnya bila ia tidak berhasil membujuk Nabi Muhammad Saw. untuk menghentikan dakwahnya. Namun permohonan pamannya itu tidak dikabulkan, bahkan ia berkata tegas: “Wahai pamanku, demi Allah, sekiranya matahari diletakkan di sebelah kananku, dan bulan di sebelah kiriku supaya aku berhenti berdakwah, pasti aku tidak akan mau berhenti berdakwah sampai Allah memberiku kemenangan atau aku binasa dalam perjuangan.”

Mendengar perkataan dan tekad bulat Nabi Muhammad Saw. untuk terus berjuang, Abu Thalib tidak bisa berbuat banyak kecuali menyerahkan sepenuhnya kepada Nabi Muhammad Saw. Hanya saja ia berpesan agar waspada dalam menyebarkan dakwah Islam dan berusaha menghindari ancaman masyarakat Quraisy.

Orang-orang kafir Quraisy tidak berani berhadapan langsung dengan Nabi Muhammad Saw. untuk memintanya agar meninggalkan kegiatan dakwah karena mereka masih memandang posisi sosial pamannya, yaitu Abu Thalib. Tetapi mereka berani mengambil tindakan terhadap keluarga dan para sahabat Nabi.

Melihat usaha pendekatan Abu Thalib gagal dan agama Islam terus memperoleh pengikut, Abu Jahal dan Abu Sufyan mendatangi Abu Thalib kembali sambil mengancam. Mereka berkata: “Hai Abu Thalib, kamu sudah tua, kamu harus mampu menjaga dirimu jangan  membela  Muhammad.  Kalau  hal itu  dilakukan terus maka  keluarga  kita akan pecah.” Tetapi ancaman itu juga tidak berhasil. Hal itu disebabkan karena tekad kuat Nabi Muhammad Saw. sudah bulat untuk terus melaksanakan dakwah Islam kepada masyarakat Makkah meskipun ia harus bertaruh nyawa.

Gagal melakukan pendekatan melalui jalur kekeluargaan, akhirnya pemimpin masyarakat  Quraisy  lainnya  menjumpai  Abu  Thalib  untuk  membujuknya  agar  bisa menghentikan  dakwah  kemenakannya  itu.  Kali  ini  bukan  ancaman  yang  diberikan, melainkan tawaran. Ia menawarkan seorang pemuda tampan bernama Amrah Ibnu Walid yang usianya sebaya dengan Nabi Muhammad SAW, lalu mereka berkata: “Hai Abu Thalib, Muhammad saya tukarkan dengan pemuda ini. Peliharalah orang ini dan serahkan Muhammad kepada kami untuk kami bunuh.”

 

Mendengar ancaman dan tekanan itu, Abu Thalib menjawab dengan suara lantang: “Hai orang kasar, silakan dan berbuatlah sesukamu. Aku tidak takut!” Kemudian Abu Thalib mengundang keluarga Bani Hasyim untuk meminta bantuan dan menjaga Muhammad Saw. dari ancaman dan penganiayaan kafir Quraisy.

Setelah gagal melakukan tekanan kepada Nabi Muhammad Saw. dan Abu Thalib, pemimpin Quraisy mengutus Uthbah Ibnu Rabi’ah untuk membujuk Nabi Muhammad Saw. agar menghentikan dakwahnya. Untuk itu, ia menawarkan beberapa pilihan kepada Nabi Muhammad Saw. Lalu ia berkata: “Hai Muhammad, bila kamu menginginkan harta kekayaan, saya sanggup menyediakan untukmu. Bila kamu menginginkan pangkat yang tinggi, saya sanggup mengangkatmu menjadi raja, dan bila kamu menginginkan wanita cantik, saya sanggup mencarikannya untukmu. Tetapi dengan syarat kamu mau menghentikan kegiatan dakwahmu.”Mendengar tawaran itu, Nabi Muhammad Saw. menolaknya dengan tegas. Lalu Nabi Muhammad membaca ayat-ayat al Qur’an. Uthbah tertunduk malu dan hati kecilnya membenarkan ajaran Nabi Muhammad Saw. Kemudian ia kembali ke kaumnya dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Kemudian ia menganjurkan kepada masyarakat Quraisy dan kawan-kawannya untuk menerima ajakan Muhammad Saw.

Mereka yang tidak senang dengan ajakan Nabi Muhammad Saw. terus berusaha mengganggu dan merintangi dakwah Nabi dengan berbagai cara, termasuk penyiksaan dan pembunuhan. Di antara sahabat Nabi Muhammad Saw. yang mendapat siksaan dari kafir Quraisy adalah Bilal bin Rabah, Yasr, Amr bin Yasir, Sumaiyah (isteri Yasir), Khabbah bin Aris,  Ummu  Ubais,  Zinnirah,  Abu  Fukaihah,  Al-Nadyah,  Amr  bin  Furairah,  dan Hamamah. Mereka menerima siksaan di luar batas perikemanusiaan, misalnya dipukul, dicambuk, tidak diberi makan dan minum. Bilal dijemur di terik matahari dan ditindih batu besar. Isteri Yasir yang bernama Sumaiyah ditusuk dengan lembing sampai terpanggang.

Siksaan itu ternyata tidak hanya dialami oleh hamba sahaya dan orang-orang miskin, tetapi juga dialami oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, Zubair bin Awwam. Namun siksaan yang dialami Abu Bakar ash-Shiddiq tidak berlangsung lama karena ia mendapat pertolongan dari sukunya yaitu Bani Taymi.

Hambatan, gangguan, dan ancaman terus berlangsung dilakukan masyarakat kafir Quraisy  terhadap  umat  Islam  hingga  akhirnya  umat  Islam  diperintahkan  oleh  Nabi Muhammad SAW untuk Hijrah ke habsyi (ethiopia).

Hal penting yang dapat ditarik dari pelajaran di atas adalah bahwa apapun resiko yang akan dihadapi masyarakat muslim dalam berjuang menegakkan kebenaran dan penyiaran nilai-nilai keislaman, harus dihadapi dengan keteguhan jiwa, kesabaran, dan tawakal. Selain itu juga harus diupayakan cara-cara terbaik dalam menyebarkan ajaran Islam sehingga tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dapat berhasil dengan baik. Rasulullah Saw. telah memberikan contoh yang baik. Beliau tetap tabah, sabar, tekun, dan berjiwa besar dalam menyebarkan ajaran Islam yang diterimanya. Beliau tidak terkecoh dalam kedudukan, pangkat, harta, dan wanita atau kehormatan duniawi lainnya.

Beberapa faktor yang menyebabkan mereka menolak keras ajaran Muhammad adalah;

a. Ketakutan kehilangan kekuasaan

 

Kaum kafir Quraisy tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Di masa itu terjadi perebutan kekuasaan antar suku. Dengan mengikuti ajakan Muhammad mereka menganggap bahwa mereka mengakui kekuasaan Muhammad. Mereka menganggap bahwa dengan mengikuti ajaran Muhammad maka telah tunduk kepada Nabi Muhammad dan Bani Hasyim

b. Hilangnya status sosial

 

Masyarakat Quraisy saat itu hidup dalam penggolongan-penggolongan status sosial atau kasta. Ada kaum majikan dan ada kaum budak. Budak yang dimiliki seseorang adalah golongan yang berkasta rendah. Mereka bisa diperjual belikan dan hak-haknya sebagai manusia tidak dihargai sama sekali.

Para pembesar Quraisy pada umumnya memiliki status sosial tinggi. Mereka keberatan jika status sosial mereka disamakan dengan yang lain. Sementara Islam mengajarkan kepada manusia untuk saling menghargai satu sama lain sebab derajat manusia adalah sama, yang membedakannya di sisi Allah hanyalah tingkat ketaqwaannya saja. Oleh karena itu kaum kafir Quraisy menentang ajaran Islam.

c. Hilangnya perdagangan patung

 

Orang kafir Quraisy adalah masyarakat penyembah berhala. Membuat berhala merupakan mata pencaharian masyarakat ketika itu. Mereka membuat berhala Latta, Uzza, Manat dan Hubbal kemudian dijual kepada orang-orang yang mengunjungi kakbah yang nantinya dijadikan sesembahan.

Sementara itu Islam mengajarkan bahwa manusia hanya menyembah Allah semata dan tidak boleh menyembah selain Allah. Jika mereka mengikutiajaran Islam maka mereka khawatir kalau mata pencahariannya sebagai pembuat patung tersebut akan hilang. 5.   Tantangan Dakwah Nabi Muhammad Saw.

 

Ketika Rasulullah mulai melancarkan kegiatan dakwahnya secara terang-terangan di tengah-tengah tempat kafir Quraisy berkumpul, dan mengajak mereka untuk masuk Islam, bahkan beliau melakukan shalat di sisi Ka'bah. Orang-orang kafir yang tidak suka dengan ajaran Islam semakin membenci ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Lalu, kaum kafir Quraisy menghambat dan menghalangi dakwah Rasulullah melalui berbagai cara diantaranya:

 

a. Penghinaan, ancaman dan siksaan terhadap Rasulullah Saw.

Rasulullah dihina sebagai orang gila, tukang sihir, anak celaka dan lain-lain dengan sebutan penghinaan. Suatu saat Rasul pernah dilempari kotoran domba, rumah beliau juga dilempari sampah dan kotoran. Untuk mencelakakan beliau, pernah diletakkan duri yang tajam di depan rumahnya, juga tindakan-tindakan lain yang sangat menyakitkan.

 

b. Penghinaan, Ancaman dan Siksaan terhadap Pengikut Rasulullah Saw.

Misalnya penghinaan dan penyiksaan yang ditimpakan kepada Bilal oleh majikannya. Ia dijemur di tengah terik matahari sambil dilempari batu. Tidak puas, majikannya pun mencambuknya dan menimpakan batu yang besar di tubuh bilal. Bilal kemudian diselamatkan oleh Abu Bakar dengan cara dibelinya dari majikannya dengan harga yang sangat tinggi. Contoh lain penyiksaan keji yang dilakukan kafir Quraisy adalah  siksaan  yang  ditimpakan  kepada  Ayah  dan  ibu  Ammar  bin  Yasir,  mereka dibunuh dan bahkan ditusuk jantungnya oleh Abu Jahal. Sahabat lainnya yang mendapatkan perlakuan sama adalah Zamirah yang matanya dicungkil hingga buta. Kekejian mereka juga menyebabkan Hibab terbelah tubuhnya karena ditarik oleh dua ekor unta yang berlawanan arah.

 

c. Bujukan harta, kedudukan dan wanita

Langkah ini dilakukan oleh kafir Quraiys dengan mengutus Utbah bin Rabi'ah untuk membujuk Rasulullah Saw dengan harta dengan janji berapapun Nabi meminta maka akan diberikan. Bahkan mereka membujuknya untuk menjadikan Nabi sebagairaja  dan  diiming-imingi  wanita-wanita  yang  tercantik di seluruh  Arab  asalkan Rasulullah menghentikan kegiatannya menyebarkan agama Islam. Namun semuanya ditolak oleh Rasulullah.

d. Membujuk Nabi untuk bertukar sesembahan

 

Kafir  Quraiys  menawarkan  kepada  Nabi  untuk  saling  bertukar  sesembahan. Dimana  mereka  meminta  Nabi  untuk  menyembah  tuhan  Latta  dan  Uzza  dalam beberapa hari, untuk kemudian mereka bersedia menyembah Allah. Namun usaha ini ditolak Nabi melalui firman Allah dalam QS. Al-Kafirun ayat 1-3.

 

e. Membujuk dan Menghasut Abu Thalib

Tindakan langsung terhadap Nabi selalu menghadapi kegagalan, maka kafir Quraisy mulai beralih untuk mempengaruhi dan membujuk paman Nabi (Abu Thalib) agar memerintahkan Nabi berhenti berdakwah. Mereka menghasut dan mengiming- imingi dengan memberikan ganti Rasulullah dengan seorang pemuda yang gagah dan ganteng,  dengan  syarat  Abu  Thalib  tidak  menghalangi  mereka  membunuh  Nabi. Namun usaha mereka ditolak mentah-mentah oleh Abu Thalib. Hasutan lainya adalah membujuk Abu Thalib dengan pernyataan bahwa Nabi telah membawa ajaran yang bertentangan dengan ajaran para pendahulu dan nenek moyang bangsa Arab. Taktik ini juga  gagal.  Bahkan  Nabi  mengatakan:  "Seandainya  matahari  diletakkan  di  tangan

kananku  dan  rembulan  di  tangan  kiriku,  aku  tidak  akan  berhenti  menyampaikan dakwah sehingga berhasil atau aku mati karenanya".

 

f.  Menghasut  Masyarakat Makkah

Upaya lain yang dilakukan kafir Quraisy untuk merintangi dakwah Nabi adalah dengan memempengaruhi masyarakat Quraisy untuk tidak mendengarkan dakwah atau bacaan-bacaan al-Qur'an, karena disebutkan oleh mereka sebagai jampi-jampi yang membuat mereka tertenung. Selain itu, mereka juga mengancam untuk tidak segan - segan membuat mereka sengsara atau bahkan dibunuh jika mengikuti ajaran Nabi

 

g. Pengasingan dan pemboikotan Bani Hasyim dan Bani Muthallib

Upaya ini merupakan upaya yang sangat menyengsarakan kaum Muslimin. Kafir Quraisy melarang siapapun untuk berinteraksi dengan Bani Hasim dan Bani Mutahllib, melakukan transaksi jual beli, menikahi atau dinikahi, menengok yang sakit atau menolong mereka. Pemboikotan ini dituliskan dalam selembar pengumuman yang ditempelkan di pintu gerbang masuk Ka'bah, sehingga semua orang tahu dengan ancaman berat bagi mereka yang melanggarnya.

 

h.   Mempengaruhi  pimpinan  negara-negara  tetangga  untuk  menolak  kehadiran  orang islam

ini lakukan misalnya sebagian sahabat Nabi hijrah ke habsy

Quraisy datang menghadap  raja  mereka  yang beragama  Nashrani  dan menjelaskan tentang ajaran Islam  dengan  tidak benar.  Namun, ketika  dikonfrontir dengan  umat Islam yang dijurubicarai Ja'far, akhirnya mereka kalah dan Raja Habysi memberikan jamainan keamanan kepada umat Islam untuk hidup tentram di negaranya.

6.   Kunci Keberhasilan Nabi Muhammad Saw. dalam Dakwah di Makkah

 

Nabi Muhammad mengembangkan dakwahnya di Makkah dengan segala tantangan dan ancaman dari Masyarakat  Quraisy.  Tantangan tersebut tidak mengahalangi beliau untuk  menghentikan  dakwanya.  Perjuangannya  terus  dilakukan  sehingga  pengikutinya terus bertambah. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari karakter yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw.  karakter tersebut antara lain:

a.   Sabar.

 

Nabi Muhammad memiliki kesabaran   dalam menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik dari keluarga maupun masyarakat Makkah. Sikap sabar menjadi modal utama Nabi Muhammad untuk terus berdakwah dan tidak pernah putus asa.

b.   Kegigihan dan Keuletan

 

Nabi Muhammad Saw memiliki kegigihan dan keuletan dalam menyebarkan Islam, baik   kepada   keluarga   maupun   masyarakat   Makkah.   Kegigihan   dan   keuletan menghadapi segala rintangan yang dihadapi.

c.   Berakidah yang Benar dan Kuat.

 

Karakter ini menjadi modal utama dalam dakwah Nabi Muhammad. Beliau menyakini akan janji Allah Swt. Beliau tidak pernah ragu akan janji Allah yang akan melindungi dakwanya.

d.   Akhlak Terpuji dan Menjauhi Kemungkaran

 

Nabi Muhammad Saw sudah terkenal dengan :Al Amin” sebelum diangkat jadi Nabi dan Rasul. Masyarakat Quraisy sudah mengakui kebaikan dan kejujuran Nabi Muhammad Saw. Sehingga ketika Nabi Muhammad Saw diangkat jadi Nabi dan Rosul, semua orang tidak bisa menolak akan kebenaran dakwanya. Tapi karena kesombongan dan keangkuhan menjadi masyarakak Quraisy menolak dakwahnya.

e.   Kesetaraan Derajat

Quraisy datang menghadap  raja  mereka  yang beragama  Nashrani  dan menjelaskan tentang ajaran Islam  dengan  tidak benar.  Namun, ketika  dikonfrontir dengan  umat Islam yang dijurubicarai Ja'far, akhirnya mereka kalah dan Raja Habysi memberikan jamainan keamanan kepada umat Islam untuk hidup tentram di negaranya.


Sunday, August 30, 2020

GARIS BESAR PEMBELAJARAN BAB I DAULAH ABBASIYAH

 RANGKUMAN BAB I



·         Daulah Abbasiyah berkuasa selama lima setengah abad. Sejak 750 – 1258 M yang wilayahnya kekuasaannya membentang luas dari   Asia Barat, Asia Selatan, Afrika Utara hingga Eropa. Pada masa inilah peradaban Islam berada pada puncak kejayaannya, sejarwan menyebutnya sebagai Golden Age (Tahun Keemasan).

·         Daulah ini disebut Abbasiyah karena pendirinya merupakan keturunan Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi Muhammad Saw).

·         Tokoh utama pendiri Daulah Abbasiyah adalah Ali bin Abdullah, Muhammad bin Ali, Ibrahim bin Ali, Abu Abbas As-Saffah, Abu Ja’far Al-Mansyur, Abu Muslim Al- Khurasani.

·         Walau pendiri sekaligus khalifah pertama Dauah Abbasiyah adalah Abul Abbas As- Saffah, tetapi pemerintahannya sangat singkat. Usaha pembangunan, pengembangan dan peletak da sar pemerintahan Daulah Abbasiyah justru dilakukan oleh pelanjutnya, yaitu khalifah ke dua Abu Ja’far Al-Mansyur.

·         Keberadaan Daulah Abbasiyah berlangsung selama 550 tahun/lima setengah abad (132-656 H/750-1258 M). Selama periode itu pola pemerintahan Daulah Abbasiyah berubah-ubah sesuai dengan perubahan politik, sosial, budaya, dan penguasa.

·         Dari 37 khalifah Dinasti Bani Abbasiyah, terdapat beberapa orang khalifah yang terkenal, di antaranya Abu Ja’far Al -Mansur, Harun Ar-Rasyid dan Abdullah Al- Makmun.

·         Al-Mansur merupakan khalifah  kedua,  merupakan khalifah yang menetapkan dasar- dasar pemerintahan Daulat Bani Abbas.Masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Mansur merupakan masa awal perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan cikal bakal perkembangan  kejayaan  Abbasyiah     di masa  pemerintahan  setelahnya. Kota Baghdad yang dibangunya menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan selain  merupakan pusat  perdagangan    juga  kebudayaan  dan  ilmu  pengtahuan.    Baghdad  dianggap sebagai kota terpenting di dunia dan menjadi salah satu  pusat peradaban dunia.

·         Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Khalifah Al-Makmun, peradaban Islam mencapai masa keemasan. Kebudayaan India dan Yunani juga telah memberi sumbangan   yang   berarti   bagi   perkembangan   kebudayaan   Islam.   Kota-kota Jundisapur, Harran, dan Iskandariyah  adalah pusat-pusat peradaban Yunani sebelum Islam.   Setelah Islam datang tradisi keilmuwan Yunani terjaga bahkan mengalami perkembangan yang semakin pesat. Beberapa sastrawan dan budayawan yang muncul pada masa itu adalah Ibnu Maskawaih dan Al-Kindi.

·         Al-Mansur,  Harun  Ar-Rasid  dan  Al-Makmun  merupakan  masa-masa  keemasan peradaban Islam. Para khalifah agung tersebut dikenal sebagai penguasa adil dan bijaksana serta memiliki perhatian dan kecintaan yang   kuat   terhadap ilmu pengetahuan. Dukungan dan kegigihan mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan perdaban Islam tercermin dalam berbagai kebijakan pemerintahannya.


Sunday, August 23, 2020

MENGENAL DAULLAH ABBASIYAH BAGIAN II

 KEMAJUAN  PERADABAN  DAN  KEBUDAYAAN  ISLAM  MASA  DAULAH ABBASIYAH

d.   Ekonomi (Perdagangan, Perindustrian dan Pertanian)


Peningkatan taraf hidup masyarakat dalam bidang ekonomi masa Daulah Abbasiyah sebenarnya telah dimulai saat Khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur berkuasa. Ia merupakan tokoh utama dari peletak dasar ekonomi Daulah Abbasiyah, sikap tegas, adil dan bijaksana membawa  Daulah  Abbasiyah  maju  dalam  berbagai bidang Kemajuan sektor ekonomi Daulah Abbasiyah pada masa ini disebabkan oleh usaha-usaha para khalifah yang mendorong kemajuan dalam sektor perdagangan.

  Sektor Perdagangan

Perekonomian masyarakat pada masa Daulah Abbasiyah meningkat saat khalifah Al- Mahdi (775-785 M) memerintah. Hubungan luar negeri Daulah

Abbasiyah dengan kerajaan-kerajaan lain telah membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat dan menambah kas negara.

Kota Basrah menjadi pelabuhan penting, sebagai tempat transit antara Timur dan Barat,

banyak   mendatangkan   kekayaan   bagi   Abbasiyah.   Selain   itu,  ada  juga pelabuhan Damaskus dan dermaga Kuffah. Seiring itu, terjadi peningkatan pada sektor tambang, pertanian dan industri.

  Sektor Perindustrian

Khalifah Daulah Abbasiyah memiliki perhatian yang sangat serius dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Untuk itu, mereka aktif mendorong kemajuan  sektor perindustrian.  Para  khalifah menganjurkan masyarakatnya untuk berlomba-lomba dalam industri dan pengolahan.

Banyak kota dibangun untuk pusat perindustrian. kota Basrah menjadi pusat industri gelas dan sabun, kota Kuffah merupakan pusat industri tekstil, industri pakaian dari sutra   bersulam ditempatkan di kota Damaskus yang

pusat kerajinan sutranya berada di Khazakstan, dan kota Syam menjadi pusat industri keramik dan gelas berukir.

Pembangunan kanal, bendungan,  irigasi dan terusan diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan petani yang hasilnya mampu meningkatkan produktifitas para    petani dan kualitas hasil panennya. Sebagai contoh, pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid, istri khalifah, Ratu Zubaidah menyaksikan penderitaan rakyat akibat kemarau panjang dalam kunjungannya ke Makkah dan Madinah. Atas usulan permaisuri, khalifah membangun sebuah bendungan dan terusan yangdapat  mengalirkan  air  ke  ladang-ladang  dan  untuk  kebutuhan  hidup  para petani. Sehingga kehidupan masyarakat di dua kota suci itu sejahtera. Untuk mengenang jasa Ratu Zubaidah, bendungan itu diberi nama “Bendungan Zubaidah”.

 e.    Seni Budaya

Peradaban Islam dalalm bidang seni budaya, sastra mancapai puncak kejayaannya pada masa Daulah Abbasiyah. Kota Baghdad menjadi kota pusat studi ilmu, seni dan sastra. Kemajuan ini disebabkan karena proses asimilasi (pertemuan budaya) antara bangsa Arab dengan bangsa lainnya. Apalagi setelah kegiatan penerjemahan berbagai macam buku dari Yunani, India, Byzantium, dan Persia ke dalam bahasa Arab.

Perkembangan peradaban yang dapat diidentifikasi dalam bidang seni budaya dan sastra seperti :

 Seni Arsitektur

Seni arsitektur ini sangat digemari oleh para khalifah. Seni arsitektur ini sangat   berguna   untuk   keperluan   membangun   gedung,   masjid,   istana, madrasah, dan kantor pemerintahan. khalifah Abbsiyah tidak segan-segan mendatangkan arsitek-arsitek dari Byzantium, Yunani, Persia, dan India untuk mendisain bangunan dan mengajarkan seni arsitektur bangunan kepada orang Abbasiyah

Bukti  dari  kemajuan  pradaban  seni  arsitektur  pada  masa  Daulah Abbasiyah masih dapat ditemukan sampai saat ini dari keindahan gedung-gedung istana, masjid, madrasah sebagai peninggalan Daulah Abbasiyah.

 

 Seni Tata Kota

Seni  tata  kota  dan  arsitektur  pada  masa  Daulah  Abbasiyah  bernilai sangat tinggi, banyak bangunan dan kota dibangun dengan teknik tata kota yang berseni tinggi. Diantara kota-kota itu adalah :

  Kota Baghdad

Baghdad dibangun tahun 763 M pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur. Pembangunan kota ini melibatkan 100.000 orang ahli bangunan, terdiri dari arsitek, tukang batu, tukang kayu, pemahat, pelukis, dan lain-lain  yang  didatangkan  dari  Suriah,  Iran,  Basrah,  Mosul,  Kuffah,  dan daerah   –daerah   yang   lainnya.   Biaya   pembangunan   kota   ini   mencapai

4.833.000 dirham.

Kota Baghdad dibangun berbentuk bundar sehingga disebut kota bundar (Al-Mudawwarah). Dikelilingi dua lapis tembok besar dan tinggi. Bagian bawah selebar 50 hasta dan bagian atas 20 hasta, tingginya 90 kaki (27.5 m). Di luar tembok dibangun parit yang dalam, yang berfungsi ganda sebagai saluran air dan benteng pertahanan.

Di tengah kota dibangun istana khalifah diberi nama Qashrul Dzahab (istana emas) yang melambangkan kemegahan dan kejayaan. Di samping istana, dibangun pula Masjid Jami’ Al-Mansyur.

  Kota Samarra

Lima tahun setelah kota Baghdad mengalami kemajuan Khalifah Al- Mu’tashim Billah (833-842 M) membangun kota Samarra. Di dalam kota ini terdapat istana yang indah dan megah, masjid raya, taman kota dengan bunga-bunga yang indah, dan alun-alun. Untuk memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya, dibangun pula pusat-pusat perbelanjaan dan pusat-pusat pelayanan publik.

Selain pembangunan di kota-kota tersebut, dua kota suci umat Islam Makkah dan Madinah juga tidak terlepas dari sentuhan seni arsitektur para penguasaa Daulah Abbasiyah. Terlebih Masjid Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Menurut tradisi, setiap penguasa muslim pada masanya  masing-masing  turut  ambil  bagian  dalm  renovasi  dan pembangunan dua Masjid suci kebanggaan umat Islam tersebut.

 f.    Seni Sastra

Dunia sastra mencapai puncak kejayaannya pada masa Daulah Abbasiyah. Kota Baghdad merupakan pusatnya para penyair dan sastrawan. Bahkan hampir seluruh khalifah Abbasiyah menyukai sastra. Berikut beberapa penyair dan sastrawan yang terkenal saat itu

•  Abu Athiyah (760 – 841 M)

•  Abu Nawas (741 – 794 M)

•  Abu Tamam (w 847 M)

•  Al-Buhtury (821 – 900 M)

•  Al-Muntanabbi (961 – 967 M)

 

Kota Baghdad terkenal dengan kisah yang melegenda di kalangan umat Islam yaitu cerita tentang 1001 malam (Alfu Lailah Wa Lailah) yang ditulis oleh Mubasyir ibnu Fathik.

Friday, August 21, 2020

MENGENAL DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW DI MEKAH BAGIAN 2

 DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW DI MEKAH

2.   Permulaan Dakwah Nabi Muhmmad Saw.

 Ketika Nabi Muhhamad Saw mencapai usia sempurna, yaitu 40 tahun, Allah SWT mengutusnya   sebagai   pembawa   berita   gembira   dan   pemberi   peringatan   untuk mengeluarkan mereka dari kebodohan yang gelap menjadi cahaya ilmu, yakni diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Peristiwa itu terjadi di bulan juli tahun 610 M. Sebagaimana dijelaskan  oleh  Mahmud  Basya  ahli  falak  bahwa  peristiwa  itu  bertepatan  pada  17 Ramadhan tahun 13 sebelum Hijriyah. Beliau diangkat ketika sedang bertahanus di gua Hira, sebuah di Jabal Nur yang terletak beberapa kilometer sebelah utara kota Makkah. Tempat itu Nabi berusaha menenangkan diri dengan beribadah beberapa malam. Ibadah Nabi Muhammad mengikuti agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Setelah lebih kurang enam bulan Nabi Muhammad berkhalwat dan bertahhannus di gua Hira, maka tanggal 17 Ramadhan, malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu. Malaikat Jibril mengajari dan meminta Nabi untu membaca wahyu itu.

 

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ

.

 

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. AlAlaq [96];1-5)

 Sebelumnya Nabi Muhhamad tidak bisa membaca, lalu Malaikat Jibril berkata: bacalah!,  maka Nabi  Muhhammad     menjawab: saya  tidak  bisa membaca,  lalu  Jibril mendekap beliau dengan keras, kemudian melepaskanya. Kemudian Jibril mengulangi lagi seraya berkata : bacalah!, tapi Nabi Muhammad menjawab : saya tidak bisa membaca terus  Jibril  mendekapnya  dengan  keras  lagi,  sampai  ke  tiga  kalinya  Jibril  berkata: bacalah!, maka Nabi Muhammad bisa membacanya.

Setelah Jibril hilang, maka Muhammad pulang ke rumahnya, maka beliau menceritakan apa yang baru dialaminya kepada istrinya Khadijah. Sambil badannya menggigil meminta untuk diselimuti. Nabi berkata: “selimutilah aku” supaya hilang kegemetaranya. Setelah mereda, Khadijah mengajak Muhammad Saw. Pergi ke rumah Waraqah bin Naufal, anak pamannya yang telah memeluk agama Nasrani di zaman jahiliyah. Ia ahli kitab dia menulis kitab berbahasa ibrani dan menulis injil kedalam bahasa ibrani, saat itu waraqah sudah tua renta dan buta.

Setelah Khadijah menceritakan tentang apa yang menimpa suaminya, Waraqah berkata,  “demi  Tuhan  yang  menguasai  jiwaku  dalam  genggamanya,  sungguh  engkau adalah Nabi umat ini. Telah datang kepadamu Namus (Malaikat Jibril) yang pernah datang kepada Nabi Musa. Sungguh kaummu akan mendustakanmu, mengganggu dan mengusirmu”.

Mendengar penjelasan dari Waraqah, Nabi Muhhamad sedikit tenang, karena masih heran dengan ucapan Waraqah bahwa ia akan dimusuhi dan diusir dari tempat kelahiranya oleh kaumnya, karena beliau tahu mereka mencintainya sebagai orang yang memiliki budi pekerti  mulia  dan  suka  berkata  benar  sehinggga  mereka  menamainya  al-Amin. Terus Waraqah menjelaskan tidaklah seseorang membawa agama yang engkau bawa, melainkan ia dimusuhi. Sebagai wujud pembenaran Waraqah terhadap risalah rasul yang mulia Muhammad, Waraqah berkata jika aku mendapati harimu (masih hidup) aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.

Setelah  turunya  wahyu  yang  pertama,  pertanda  Muhammad  telah  dipilih  Allah seabagi nabi dan rasulnya. Setelah itu tidak turun wahyu lagi selama beberapa hari, para sejarawan bersepakat lamanya wahyu pertama dan kedua adalah 40 hari. Dalam keadaan rindu dan berharap-harap cemas kemudian Jibril datang kembali dengan membawa wahyu

yang kedua yaitu Surah Al-Mudassir: 1-7

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ قُمۡ فَأَنذِرۡ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ

 

Artinya   :   Hai   orang   yang   berkemul   (berselimut).   bangunlah,   lalu   berilah peringatan.  dan  Tuhanmu  agungkanlah.  dan  pakaianmu  bersihkanlah.  dan  perbuatan dosa  tinggalkanlah.  dan  janganlah  kamu  memberi   (dengan  maksud)   memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah

Semenjak turunya wahyu ini yang di ikuti dengan wahyu-wahyu berikutnya, yaitu Surah Al Mudassir yang berisi perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad berdakwah menyiarkan ajaran Islam kepada umat manusia. Mulailah beliau berdakwah masyarakat terutama  keluarganya  terdekatnya.  Dakwah  ini  dilakukan  secara  sembunyi-sembunyi

berdasarkan QS. Asy Syuara’ 214-216:

وَأَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ فَإِنۡ عَصَوۡكَ فَقُلۡ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ

 

Artinya: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan" (QS. Asy Syuara’ 214-216)

Sejak itulah, mulailah Nabi Muhammad berdakwah kepada kerabatnya, para kerabat itu adalah bani Hasyim, bani Al-Muttalib, bani Naufal dan bani Abd Syam anak-anak Abdu Manaf.   Ada yang menerima, ada pula yang menolak dengan halus dan ada pula yang menolak dengan kasar, seperti Abu Lahab. Ada dua paman Nabi Muhammad yang menolak dakwah nabi yaitu Abu Thalib dan Abu Lahab. Keduanya  tidak mau melepaskan agama nenek moyangnya sampai meninggal dunia. Tapi keduanya memiliki sikap yang berbeda terhadap dakwah Nabi. Abu Thalib membiarkan Nabi Muhammad Saw menyebarkan dakwahnya, bahkan melindunginya dari gangguan dan acamanan pembesar- pembesar Quraisy. Sedangkan Abu Lahab sangat menentang dakwah Nabi, bahkan mengancam dan berniat membunuh Nabi Muhammad. Allah mengabadikan cerita Abu Lahab di surat Al Lahab.

Pada masa periode awal ini, kerabat Nabi yang menerima dakwahnya antara lain istrinya, Siti Khadijah, sebagai wanita pertama yang masuk Islam. Lalu sepupunya, Ali bin Abi Thalib, sebagai orang yang pertama masuk Islam dari Anak. Budaknya,  Zaid bin Haritsah, sebagai orang pertama masuk Islam dari hamba sahaya. Dan shahabatnya, Abu Bakar Shiddiq, sebagai orang yang pertama masuk Islam dari laki-laki dewasa.

Selain mereka yang masuk Islam pada masa dakwah sembunyi-sembunyi adalah Said bin Zaid Al-Adawi Al-Quraisy dan istrinya Fatimah binti Al-Khattab saudara perempuan Umar dan ummu Al-Fadhl, Lubabah binti al-HaritsAl-Hilaliyah istri Al-Abbas bin Abdul Muttalib dan Ubaidillah ibnul Harits bin Abdul Muttalib bin Hisyam, Abu Salamah bin Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi Al-Quraisyi putra bibi Rasulullah, Usman bin Madh’un beserta kedua saudaranya, Al-Aqram bin Abil Arqam Al-Makhzumi Al-Quraisy.

Dakwah Nabi secara sembunyi-sembunyi ini berlangsung selama 3 tahun. Beliau berjuang keras tanpa mengenal lelah, meski banyak ejekan dan gangguan yang dijukan kepadanya dan para sahabatnya. Dakwah secara sembunyi-sembunyi ini berahir ketika turunlah perintah untuk berdakwah secara terang-terangan. Firman Allah surat Al Hijr 94 yang memerintahkan berdakwah secara terang-terangan.

فَٱصۡدَعۡ بِمَا تُؤۡمَرُ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

 

Artinya : Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik

 Setelah turun ayat ini, Nabi Muhammad Saw berdakwah secara terang-terangan ke seluruh lapisan masyarakat, baik golongan bangSawan maupun budak serta negeri-negeri lain dilakukan pertama kali di Bukit Shafa. Ketika itu, pamannya, Abu  Lahab sangat menentang keras dakwah Nabi. Peristiwa tersebut diabadikan dengan surat Al Lahab.

Selama 13 tahun di Makkah (610-622 M), Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah yang turun secara berangsur-angsur. Surat-surat yang diturunkan selama Nabi Muhammad di Makkah dinamakan surat Makkiyah yang meliputi 89 surat dan 4.726 ayat.

 3.   Perhatian dan Prioritas Dakwah Nabi Muhhamad Saw.

Selama  Nabi  Muhammad  berdakwah  di  Makkah,  ada  masalah-masalah    yang menjadi perhatian dan  PRIORITAS yang ingin dicapai oleh Nabi Muhammad, masalah- masalah berikut:

 a.   Mengajarkan Ketauhidan

Tantangan dalam berdakwah Nabi Muhammad masa di Makkah adalah meluruskan akidah masyarakat Arab Jahiliyyah, yang mana mereka memiliki kepercayaan berbagai tuhan (Polytheisme), seperti penyembahan berhala, penyembahan bulan dan bintang, penyembahan jin, ruh, dan arwah nenek moyang, dan ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Islam datang dengan membawa ajaran tauhid, penyembahan hanya kepada Allah yang Maha Esa, tak beranak dan tak diperanakkan. Begitu juga yang berkaitan dengan kebudayaan. Kebudayaan Arab pra Islam sangat dipengaruhi oleh mitologi dan ajaran- ajaran sesat lainnya, sedang Islam membawa peradaban atau kebudayaan baru berdasarkan petunjuk Allah dan Al-Qur’an.

 b.  Kondisi Masyarakat Makkah yang Menyembah Berhala

Nabi  Muhammad  Saw  mendapat  tugas  mengajak  masyarakat  Makkah  untuk menyembah  Allah  Saw,  Tuhan  yang  Maha  Esa.  Ajakan  Nabi  Muhammad  Saw

bertentangan dengan kondisi serta kebiasaan masyarakat   masyarakat Makkah yang menyembah berhala.

c.   Memberi Khabar Tentang hari Pembalasan

Masyarakat Arab pra Islam tidak percaya kepada   hari   kebangkitan,   hari pembalasan, sampai ada diantara mereka bertanya-tanya, mana mungkin tulang- belulang yang sudah hancur dapat dibangkitkan dan dihidupkan kembali. Padahal Islam mengajarkan dan memperingatkan kepada manusia, bahwa dunia ini hanya sementara dan tempat yang abadi adalah akhirat.

Nabi  Muhammad  memprioritaskan  dakwahnya  kepada  ajakan  untuk mempercayai  adanya  hari  pembalasan.  Mereka  perlu  menjaga  kehidupannya  untuk selalu sesuai dengan aturan dan tuntutan Allah Saw. Setiap kebaikan akan mendapat balasan kebaikan. Sebaliknya setiap kejahatan akan mendapat balasan yang setimpal.Nabi Muhammad berusaha menyakinkan para pengikutnya akan janji Allah bagi orang yang beriman.

 d.  Merubah Perilaku Masyarakat Jahiliyah

Dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat Arab pra Islam terdapat pada suatu tradisi yang melanggar etika (akhlak) dan hak asasi manusia: seperti perjudian, minum –minuman keras, perampok, perzinahan dan perbuatan yang melanggar hukum dan tantanan  sosial  masyarakat.  Sementara  Islam  selalu mengajarkan  perbuatan  terpuji, seperti menolong sesama manusia, melarang melakukan fitnah, mengambil hak orang yang bukan miliknya sendiri, melarang mabuk-mabukan, melarang perzinahan, melarang penguburan bayi hidup-hidup, dan ajaran terpuji lainnya.

Kondisi  masyarakat  Makkah  yang  terkenal  dengan  masa  jahiliyyah,  bukan mereka bodoh dalam intelektual, tapi mereka bodoh dalam prilaku yang cenderung merusak tantanan sosial, dan tatatan pribadi. Mereka terbiasa melakukan judi, pembunuhan dan meminum hamar.

Nabi Muhammad secara bertahap merubah prilaku-prilaku mereka sehingga menjadi makhluk yang baik dan benar. Nabi Muhammad mencontohkan dalam kehidupannya sehari-hari. Nabi Muhammad sudah terkenal dengan al-Amin sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Masyarakat Makkah mengakui akan kebaikan dan kejujuran Nabi Muhammad Saw. Al Quran mengabadikan akhlak Nabi Muhammad

dalam surat Al Qalam ayat 4.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ

 

Artinya . dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

 e.   Mengangkat dan Melindungi Hak Asasi Manusia

Di dalam kehidupan masyarakat Arab pra Islam terdapat tradisi perbudakan. Memperbudak atau menjual belikan budak seperti berdagang dagangan lainya. Dan perbuatan itu mereka lakukan tanpa penyesalan seolah tanpa dosa. Sedangkan menurut ajaran Islam manusia itu sama derajatnya, hanya takwa yang membedakan mereka. Kehadiran Islam justru untuk mengangkat martabat mereka yang tertindas seperti para dhuafa  dan  fakir  miskin  .Perbedaan  inilah  pada  akhirnya  membawa  perbenturan dahsyat antara masyarakat Arab kafir dan mukmin di tanah Arab Makkah.

Selain itu, status wanita dianggap sebagai aib keluarga. Kebiasaan membunuh dan  mengubur  anak wanita  menjadi  alat  untuk menghilangkan  aib keluarga.  Islam mengangkat derajat wanita dalam posisi yang tinggi dan terhormat.

Tuesday, August 11, 2020

MENGENAL DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW DI MAKKAH BAGIAN 1

 DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW. DI MAKKAH

 Sebelum melangkah membahas tentang dakwah Nabi Muhammad di Makkah, maka mari kita bahas dulu tentang riwayat hidup Nabi Muhhammad SAW dan serta perjuangan beliau sebelum menjadi Nabi. Berikut sejarah singkat Nabi Muhammad.


1.   Riwayat Hidup Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad Lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah yang bertepatan dengan 20 April 571. Ayahnya bernama Abdullah Abdul Muttalib dan Ibunya bernama Amina binti Wahab. Nasab Bapak Dan Ibu beliau bertemu pada datuk beliau yang bernama Kilab. Jika di runut sampai atas nasab beliau berahir pada Nabi Ismai ibnu Ibrahim bapak orang Arab al-Musta’ribah.

Silsilah Nabi  Muhammad sangat jelas dari keturunan pemuka dan pemimpin suku Quraisy. Ayahnya bernama Abdullah bin Abd al-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin kilab Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Sedang ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab.


Beliau  berasal  dari  suku  Asli  Quraisy yang  mana Suku Quraisy adalah suku yang mempunyai kedudukan utama dalam kemuliaan dan kedudukan yang tinggi diantara Bangsa Arab. Menurut Syekh Khudari tidaklah engkau dapati dalam silsilah bapak-bapaknya Nabi, melainkan orang-orang mulia, tidak ada orang rendah dikalangan mereka, tetapi mereka semuanya adalah pemuka dan pemimpin. Bahkan Ayah beliau Abdullah adalah putra bungsu Abdul Mutthalib dan di juluki Adz- dzabih karena menurut riwayat Abdul Mutthalib bernadzar apabila ia dikarunia sepuluh anak lelaki, maka dia akan menyembelih  salah  satu  dari mereka, ketika diundi, ternyata undianya jatuh pada Abdullah. Ketika hendak  disembelihnya,  Quraisy  melarangnya  dan  ia menebusnya dengan seratus ekor unta.

Muhammad lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya Abdullah meninggal tiga bulan setelah menikahi Aminah. Saat itu usia Abdullah kurang lebih 25 tahun. Nabi Muhammad dilahirkan di rumah Abi Thalib di Syi’ib bani Hasyim. Perempuan yang bertindak sebagai bidanya adalah Asy-Syaffa’ Ummu Abdurrahman bin Auf. Ketika Muhammad Lahir Ibunya mengirim utusan kepada kakeknya untuk memberi kabar. Maka Abdul Mutthalib datang dengan gembira dan menamainya dengan nama Muhammad.

Dalam awal perkembangannya Muhammad disusui dan dibesarkan oleh ibu kandungnya sendiri; Aminah binti Wahab. Setelah itu Muhammad disususi oleh Tsuaibah Aslamiah yang merupakan budak pamannya Abu Lahab. Setelah itu Muhammad kecil sususi oleh Halimah binti Abi Dzuaib As sa’diyah, istri al-Harits bin Abd al’Uzza. pada usia kurang dari enam tahun terjadilah pristiwa pembelahan dada Muhammad untuk mengeluarkan bagian syaitan darinya oleh malaikat Jibril dan kejadian itu disampaikan pada  ibunya. Setelah  kejadian itu  tahun  Muhammad  diasuh ibunya  sendiri  pada  usia kurang dari enam tahun. Ketika Muhammad berusia enam tahun, ibunya tercinta, Aminah binti  Wahab  meninggal,  dimakamkan  di  Abwa.  Ketika  ia  dalam  perjalanan  pulang bersama Muhammad dan ditemani oleh Ummu Aiman menuju Makkah setelah mengunjungi paman-pamnya dari Bani Adiy bin Najjar di Madinah.

Sepeninggal ibunya, menurut Syihab, Muhammad kecil diantarkan oleh Ummu Aiman kepada  Kakenya,  Abd  al  Mutthalib.  Sejak  itu  Muhammad  dibawah  pengawasan  dan asuhan abdul Mutthalib. Abd al Mutthalib sangat menyayangi Muhammad melebihi anak- anaknya sendiri. Namun 2 tahun setelah itu Abdul Muthalib wafat karena sudah usia lanjut. Saat itu usia Muhammad 8 tahun. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Thalib. Meski Abu Thalib bukanlah orang kaya tetapi ia cukup perhatian dalam merawat dan mendidik Muhammad Saw hingga dewasa meski Abu Thalib memiliki banyak anak. Seperti juga Abdul Mutthalib, Abu Thalib adalah tokoh yang disegani dan dihormati orang Quraiys. Muhammad berada dalam asuhan dan lindungan Abu Thalib hingga tahun ke-10 kenabian, setelah itu pamannya meninggal.

Dalam usia muda muda Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan  kambing penduduk  Makkah.  Melalui  kegiatan  pengembalaan  ini  dia  menemukan tempat untuk berfikir dan merenung. Dalam suasana demikian, dia ingin melihat sesuatu dibalik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu  duniawi,  sehingga  terhindar  dari  berbagai  macam  noda  yang  dapat  merusak namnaya, karena itu sejak muda dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.

Menurut al-Khudhari mengatakan bahwa ketika Muhammad berusia 12 tahun beliau dibersama   pamannya, Abu Thalib melakukan perjalanan ke Syam untuk berdagang bersama rombongan kafilah, para saudagar dari Makkah. Setibanya di Bashrah di awasi oleh seorang pendeta yang dikenal dengan Buhaira, meski nama sebenarnya adalah Jirjis (george). Setelah rombongan Abu Thalib berhenti dan beristirahat, Buhaira menemui mereka layaknya menyambut tamu.  Setelah itu, ia menjelaskan kepada Abu Thalib bahwa anak ini kan menjadi utusan Allah. Buhaira mengenalinya dari sifat-sifat kenabian pada

diri Muhammad yang ia lihatnya dalam kitab-kitab suci mereka. Setelah itu, Buhaira menyarankan  kepada  Abu  Thalib  agar  membawa  pulang  kembali  anak  tersebut  ke Makkah, sebelum sampai Syam. Karena Buhaira hawatir dirinya akan dijahati oleh orang- orang Yahudi. Kemudian beliau dibawa pulang kembali ke Makkah bersama para pembantunya. Perkataan ini sering diucapkan Ahli kitab; Yahudi dan Nasrani sebelum

Rasul diutus, Firman Allah dalam surat al Baqarah:89

 

وَلَمَّا جَآءَهُمۡ كِتَٰبٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٞ لِّمَا مَعَهُمۡ وَكَانُواْ مِن قَبۡلُ يَسۡتَفۡتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِۦۚ فَلَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ

89.  Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.

Ketika  Muhammad  berusia 20 tahun terjadilah perang  Fijar,  yaitu   perang antara Kinanah   yang   bersekutu   dengan   Quraisy   melawan   Qais,   namun   peperangan   ini dimenangkan oleh suku Qais. Peperangan Fijar ini terjadi beberapa kali.

Ketika  usia  Muhammad  mencapai  25  tahun,  Muhammad  berangkat  ke  Syam membawa barang dagangan saudagar wanita yang kaya raya yaitu Khadijah binti Khuwailid. Dalam catatan sejarah Khadijah adalah saudagar janda yang kaya raya, ia memperkerjakan kaum lelaki untuk menjalankan usaha daganganya dengan sistem bagi hasil. Ketika Khadijah mendengar tentang kejujuran Muhammad dan perkataanya yang benar sehingga kaumnya menjulukinya dengan sebutan al-Amin (orang yang terpercaya), maka ia tertarik untuk memperkerjakan Muhammad untuk menjalankan perdaganganya ke Syam.

Dalam perjalanan perdagangan, Muhammad ditemani oleh salah satu pembantu Khadijah yang bernama Maisyarah. Tawaran tersebut diiyakan oleh Muhammad dengan sistem bagi hasil. Untuk itu, ia berangkat ke Syam untuk menjual barang daganganya Khadijah. Dalam catatan sejarah di ketahui bahwa Muhammad Saw. Berhasil menjual barang dagangan Khadijah hingga memperoleh keuntungan yang besar. Hal itu karena banyak pedagang menilai, cara Muhammad berdagang dilakukan dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Setelah mendengar langsung cerita kelebihan yang ada pada diri Muhammad, mulai dari sifat, sikap, tutur kata hingga kesaksianya banyak pihak, mengenai kejujuran dan keutamaan Muhammad, maka kemudian Khadijah melamar Muhammad. Saat Itu usia Muhammad Saw 25 tahun sedangkan Khadijah berumur 40 tahun.

Sebelum   menikah   dengan   Muhammad   Khadijah   adalah   seorang   janda   yang mempunyai  anak  dua  yang  meninggal  sebelum  dewasa.  Dari  perkawinanya  dengan

khadijah Nabi Muhammad di karuniai beberapa anak yaitu ; Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqaiyah, Ummu Kulsum dan Fatimah. Muhammad hidup bersama Khadijah selama 25 tahun dan tidak pernah menikah dengan perempuan lain selama Khadijah masih hidup.

Ada sebuah kejadian penting yang perlu di contoh sebagai tindakan bijak dari seorang Muhammad Saw. Pada usia 35 tahun datanglah banjir bandang di Makkah sehingga merusak dinding Kakbah, maka orang-orang Quraisy bermaksud merenovasi Kakbah denganmerobohkan kakbah dulu untuk meninggikanya dan membangun atap. Maka berkumpullah suku-suku Quraisy untuk merencanakan pembangunan itu. Akan tetapi mereka takut merobohkanya karena kedudukan Kakbah di hati mereka. Maka al-Walid ibnu Mughirah berkata: apakah dengan merobohkanya kalian ingin memperbaiki atau merusaknya?, maka mereka menjawab: kami ingin memperbaikinya. Al-Walid berkata : sesungguhnya Allah tidak membinasakan orang-orang yang memperbaikinya. Maka Walid mulai merobohkanya dan mereka mengikutinya.

Kemudian orang-orang Quraisy membongkar dan merobohkan Kakbah hingga mencapai maqom Ibrahim. Maka mereka keluarkan Hijr darinya dan memulai membangun dinding Kakbah. Adapun yang memimpin pembangunan ini adalah seorang tukang kayu yang  bernama  Baqum.  Para  pemuka  Quraisy membawa  batu-batu  di  atas leher-leher mereka, diantara mereka adalah al-Abbas dan Rasulullah. Untuk setiap rukun dikhususkan

sekelompok  pembesar  yang  mengangkut  batu  batu  kesitu,  kemudian  membangunnya kembali.

Ketika pembangunan sudah sampai pada peletakan kembali batu hajar al-Aswad, maka mereka  bermaksud  meletakkan  Hajar  al-Aswad  pada  tempatnya  semula,  maka  para pemuka mereka berselisih tentang siapa yang berhak meletakkanya. Mereka berebut melakukan ini hingga nyaris berkobar api peperangan diantara mereka. Perselisihan ini terjadi  selama  empat  hari  empat  malam.     Perselisihan  itu  terus  memuncak  dan dihawatirkan akan memicu terjadinya peperangan antar suku, maka Abu Umayyah Al- Mughirah Al Makzumi paman Khalid ibnu Walid yang merupakan orang tua kalangan orang Quraisy berkata : Hai kaumku, janganlah kalian bertengkar dan putuskan siapa yang kalianridhai keputusanya. Lalu mereka menjawab: kami serahkan urusan ini kepada orang pertama yang masuk Kakbah memalui pintu masjid. Pendapat ini disetujui oleh mayoritas kabilah. Mereka puas Setelah mengetahui ternyata yang masuk ke Kakbah lewat pintu Masjid adalah Muhammad.   Maka mereka berkata kami setuju dengan Muhammad Al- Amin.

Untuk menyelesaikan perselesihan tersebut, Muhammad Saw menggelar sorban, belaiu mengambil Hajar al-Aswad  dengan  kedua tanganya  di tengah-tengah  sorban tersebut. Kemudian Muhammad meminta untuk seluruh kepala kabilah (suku) yang berselisih untuk mengangkat dan membawanya ke tempat peletakanya Hajar al-Aswad. Setelah sampai pada tempat semula, lalu beliau   sendiri yang mengambil dan meletakkannya pada tempatnya semula.

Keberhasilan Muhammad dalam menyelesaikan masalah konflik tersebut membuat orang-orang Quraisy akan kebijakannya dalam meredam konflik yang hampir menimbulkan pertumpahan darah. Ini menunjukkan betapa Muhammad mempunyai jiwa yang bijak dalam memimpin dan mengatasi masalah sosial.

APAKAH MASYARAKAT MADINAH RESPON DENGAN DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW ?

RESPON PADA DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW. DI MADINAH Untuk memperluas wawasan tentang Respon masyarakat Madinah terhadap dakwah Nabi Muhammad ...